Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya semakin gencar mempromosikan Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng, dengan beragam daya tariknya sebagai destinasi wisata berkelas dunia.
Menurut Arief, Kota Semarang saat ini sudah memiliki banyak atraksi wisata menarik dan memiliki konsep wisata yang instagrammable.
Dalam kunjungan kerja di Semarang, Arief berkeliling ke Kawasan Kota Lama didampingi oleh pejabat Eselon 1 dan Eselon 2 Kementerian Pariwisata, bersama Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Sinoeng Noegroho Rachmadi, serta Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari.
Arief tiba di Kawasan Kota Lama Semarang sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung menuju Spiegel Resto & Bar untuk melakukan diskusi ringan.
Kota Lama Semarang adalah kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt yang memiliki luas sekitar 60 hektare.
“Kota Lama adalah kawasan yang sangat instagrammable. Paling diburu kaum milenial. Di sini banyak sekali bangunan bersejarah,” kata Arief dalam siaran pers Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang diterima wartawan di Jakarta, Senin (24/6/2019).
Lokasi lain yang dikunjungi Arief adalah Gedung Marba, yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Gedung yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini sering dijadikan latar belakang untuk pengambilan gambar beberapa film dan iklan.
Dia juga sempat melakukan promosi lewat vlog di depan Gedung Marba yang mengajak wisatawan untuk datang ke Kota Semarang. Selanjutnya, Arief pun mengunjungi Gedung Out The Trap, bangunan kuno yang secara fisik berciri khas kan berupa tangga putar dari besi.
Kemudian, dia menuju Taman Srigunting yang menjadi landmark Kota Semarang. Lokasi lain yang disinggahi Arief adalah Gereja Blenduk. Gedung ini dibangun masyarakat Belanda pada tahun 1753. Nama blenduk merupakan julukan dari masyarakat sekitar yang artinya kubah.
Salah satu spot foto instagrammable yang tidak dilewatkan oleh Arief adalah Pohon Akar, di mana akar pohon tersebut menempel pada bangunan tua. Terakhir, dia melihat kerajinan di Galery UMKM.
Setelah puas berkeliling Kota Lama, Arief langsung menuju destinasi Lawang Sewu. Di Lawang Sewu rombongan disambut oleh Kasi Industri Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Semarang Haryadi, dan Direktur Utama PT. KAI Totok Suryono.
Lawang Sewu adalah gedung bersejarah yang dulunya merupakan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada 1904 dan selesai pada 1907 yang terletak di bundaran Tugu Muda. Setelah kemerdekaan, Lawang Sewu dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), atau sekarang dikenal dengan PT. Kereta Api Indonesia (KAI).
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak atau ribuan, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu.
World Heritage City
Menyadari besarnya potensi pariwisata di kawasan Kota Lama, Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti meminta dukungan Kemenpar agar Kota Lama mendapatkan status ‘World Heritage City’.
Kawasan Kota Lama Semarang, kata Hevearita, saat ini sudah bersih dari bangunan liar dan tidak kumuh lagi. Dengan luas sekitar 60 hektare dan 117 bangunan cagar budaya, saat ini 80 persen bangunan di Kota Lama Semarang sudah direvitalisasi.
“Kami berharap Kemenpar bisa membantu menggelar banyak atraksi di Kota Lama sebagai dukungan. Karena kami ingin destinasi Kota Lama menjadi berkelas dunia,” ujarnya.
Permintaan itu disambut sangat positif Arief. Dimana menurutnya, jika ingin menjadikan Kota Lama sebagai destinasi kelas dunia, maka harus menggunakan benchmark profesional yang sudah berkelas dunia. Yang tak kalah penting, perlu dibuat Integrated Tourism Masterplan.
Penulis: Risman Septian
Editor: Idul HM




























