Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita mendorong mahasiswa dan akademisi untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) di era industri 4.0 dan berkontribusi dalam perekonomian Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan Mendag pada kuliah umum bertema ‘Menumbuhkan Semangat Entrepreneurial Mahasiswa untuk Menyambut Perubahan Perdagangan Dunia’, di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Senin (11/3/2019).
“Kita harus menumbuhkan semangat kewirausahaan bagi generasi muda dan mendorong mereka mempelajari konsep kewirausahaan yang relevan di era industri 4.0. Kita harus mempersiapkan diri, baik dari segi mental, pengetahuan, keterampilan, dan teknologi agar ketika kesempatan itu datang, kita sudah siap,” kata Enggar.
Di hadapan 273 mahasiswa yang hadir, Enggar pun mengungkap fakta menarik bahwa pada 2018, di negara-negara maju sebanyak 14 persen dari total penduduk usia kerja adalah wirausahawan, sedangkan di Indonesia hanya mencapai 3,1 persen.
“Ini yang perlu terus didorong untuk terus menumbuhkan minat kewirausahan bagi para generasi muda,” ujarnya.
Dalam paparannya, Enggar menyampaikan konsep kewirausahaan yang relevan di era industri 4.0, yaitu kewirausahaan adalah milik semua orang. Selanjutnya, kewirausahaan adalah pemberdayaan dan kemitraan.
“Kewirausahaan merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan harus ditekuni. Suatu usaha akan maju bila kita mengedepankan upaya memberdayakan orang-orang di sekitar kita dan membangun pola kemitraan. Maju bersama dengan mitra dan tidak boleh ada yang dirugikan,” tutur dia.
Ketiga, wirausahawan merupakan visioner, yaitu pemimpin harus dapat memberdayakan staf dan bawahannya untuk lebih maju dan siap menjadi pemimpin.
“Untuk menjadi visioner, ada tiga hal yang diperlukan, yaitu ekspansif, berani mengambil risiko, berpikir di luar kebiasaan (thinking out of the box),” imbuhnya.
Terakhir, lanjut Enggar, kewirausahaan bersifat dapat diandalkan, dapat dipercaya, dan dipertanggungjawabkan pekerjaannya. Hal tersebut juga harus didorong dengan prinsip 3T, yaitu tepat waktu, tepat kualitas hasil, dan tepat janji.
Menurut dia, kewirausahaan berkontribusi besar dalam peningkatan ekspor yaitu dengan meningkatkan kualitas produk sehingga berdaya saing dan bernilai tambah. Selain itu, juga dengan menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat dunia dan kemampuan untuk memasarkan produk-produk tersebut.
Pembentukan Karakter di Perguruan Tinggi
Lebih lanjut Enggar menuturkan, kewirausahaan di era revolusi industri 4.0 adalah kompetisi ‘kecepatan menyampaikan dan menjual ide’. Kuncinya adalah menciptakan kebutuhan pasar, selalu belajar, dan meningkatkan produktifitas.
“Untuk itu, proses belajar di lembaga pendidikan dan universitas harus berpusat pada mahasiswa dan tidak lagi mendengarkan ceramah satu arah. Di samping itu, proses belajar juga harus mengajak mahasiswa untuk berpikir kreatif dan inovatif,” ucap dia.
Para pengajar, tambah Enggar, dituntut untuk menjadi mentor yang aktif membimbing dan mendorong anak didiknya mencapai potensi terbaik mereka. Proses belajar harus berpusat pada mahasiswa dan tidak lagi berbentuk ceramah satu arah.
“Yang paling penting, proses belajar tersebut harus menginspirasi para mahasiswa untuk aktif berkolaborasi dan bekerja sama. Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi yang hanya didapatkan oleh dua persen penduduk Indonesia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, dan bangsa,” pungkasnya.
Editor: Risman Septian




























