Kelola Sampah Semrawut, KLHK Coret Depok Nominasi Piala Adipura

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya.

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencela penanganan sampah di Kota Depok. Soalnya, Dinas Lingkungan hidup dan kebersihan (DLHK) Kota Depok hingga kini masih menggunakan pola kumpul, angkut, dan buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung.

Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar, mengatakan Kota Depok masih menerapkan sistem open dumping, yakni ditampung kemudian diangkut dan dibuang ditempat pembuangan akhir (TPA) Cipayung. Sehingga, peningkatan jumlah populasi akan mempengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan.

“Hal ini akan menyebabkan residu atau sampah yang dihasilkan semakin banyak, “ ujar dia, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya, pembuangan sampah menggunakan pola kumpul, angkut dan buang itu menyalahi ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dampak yang diakibatkan oleh sistem Open Dumping ialah dampak bagi lingkungan, penyumbatan badan air, dan dampak bagi manusia karena menjadi tempat perkembangbiakan organisme penyebaran penyakit.

“Limbah cair (Lindi) yang berasal dari sampah basah atau sampah organik yang terkena air hujan. Jika tidak ditata dengan baik, maka dapat menyebar ke dalam tanah dan masuk ke aquifer air tanah yang dapat menyebabkan pencemaran air tanah, mencemari sumber air, dan lahan luas tidak dapat digunakan untuk tujuan lain lantaran tertutup oleh sampah,“ paparnya.

Siti mengatakan, akibat pengelolaan sampah yang masih amburadul, Kota Depok terpaksa dicoret dari nominasi penerima Piala Adipura 2018. Penilaian Menteri LHK itu pun ditanggapi Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) TPA Cipayung, Kota Depok Ardan Kurniawan.

Ardan mengatakan, masalah pengelolaan sampah, pihaknya berencana menerapkan metode landfill mining untuk merevitalisasi fungsi TPA yang saat ini sudah overload. Landfill mining, adalah proses mengekstraksi material berbentuk padat dari material limbah yang sebelumnya dibuang dengan cara ditimbun di dalam tanah.

Penerapan metode itu, nantinya akan dilakukan proses ekskavasi dan pemindahan material dari landfill untuk tujuan daur ulang, reuse, dan composting.Termasuk di dalamnya upaya recovery material dan pemrosesannya serta memanfaatkan lahannya sebagai landfill baru.

”DLHK Kota Depok hingga kini masih terus mengkaji rencana tersebut, “ katanya Selasa (12/2).

Sebelumnya, Rabu (6/2), Kepala Dinas LHK Kota Depok Etty Suryahati mengatakan meski tidak terpilih menjadi nominasi penerima Piala Adipura tahun 2018, pihaknya justru mendapat bantuan dana dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan uang Rp9 miliar.

“Kita tidak malu Kota Depok gagal meraih Piala Adipura. Kita malah bangga dapat bantuan uang sebesar Rp9 miliar, “ kilahnya

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here