Pembunuh Jurnalis Diberi Remisi, Langkah Mundur Penegakan Kemerdekaan Pers di Indonesia

Jakarta, PONTAS.ID – Wakil Direktur Media dan Komunikasi, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dhimam Abror Djuraid, mengecam langkah pemerintah berikan remisi terhadap I Nyoman Susrama, otak pembunuhan wartawan Radar Bali Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Dhimam mengatakan, keputusan presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan remisi terhadap pembunuh jurnalis tidak cermat. Dhimam menilai, presiden terkesan tidak menimbang dampak yang akan ditimbulkan atas kebijakan pemberian remisi.

“Presiden Jokowi terkesan hanya melihat kasus pembunuhan berencana terhadap Narendra Prababngsa, tapi tidak melihat aspek jaminan keamanan terhadap pers,” kata Dhimam dalam keterangan resminya, Jumat (25/1/2019).

Bukan hanya tidak cermat mengambil kebijakan, Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyebut pemberian remisi ini menjadi kado buruk untuk pers Indonesia menjelang perhelatan HPN (Hari Pers Nasional) di Surabaya 9 Februari mendatang.

Selain itu, keputusan ini juga menjadi ancaman nyata bagi perlindungan profesi wartawan dan kemerdekaan pers di Indonesia.

“Pak Jokowi harus diingatkan bahwa nama beliau dibesarkan oleh teman-teman wartawan. Pemberian remisi ini otomatis melukai hati para wartawan di Tanah Air,” ungkap Dhimam.

“Ini kado buruk bagi insan media menjelang Hari Pers 9 Februari mendatang. Saya ingatkan bahwa profesi wartawan dilindungi Undang Undang. Pemerintah wajib menjalankan mandat Undang Undang demi tegaknya kemerdekaan pers di Indonesia,” imbuh mantan wartawan ini.

Dasar Pertimbangan

Sebelumnya, terkait remisi ini, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menjelaskan pertimbangan pemotongan hukuman tersebut. Laoly mengatakan remisi diberikan kepada Susrama atas dasar pertimbangan usia yang sudah lanjut.

“Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun, sekarang sudah sepuluh tahun di penjara. Jadi prosesnya begini ya, itu remisi perubahan, dari seumur hidup menjadi 20 tahun. Berarti kalau dia sudah 10 tahun tambah 20 tahun, 30 tahun. Umurnya sekarang sudah hampir 60 tahun,” kata Laoly di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019).

Laoly mengatakan remisi yang diberikan kepada Susrama bukan yang pertama diberikan kepada napi. Dia mengatakan remisi itu diberikan dengan payung hukum Keppres 174/1999 tentang Remisi.

Politikus PDIP menegaskan keputusan pemberian remisi tersebut bukan kebijakan politis. Pemberian remisi, menurutnya, atas dasar pertimbangan kapasitas lapas tempat Nyoman ditahan.

“Jadi jangan melihat sesuatu sangat politis. Jadi dihukum itu orang tidak dikasih remisi, nggak muat itu lapas semua kalau semua dihukum, nggak pernah dikasih remisi,” katanya.

Diketahui, kasus pembunuhan ini terjadi pada 2009. Susrama, yang merupakan adik pejabat Bangli, membunuh wartawan bernama Prabangsa terkait kasus dugaan penyimpangan proyek di Dinas Pendidikan. Mayat Prabangsa ditemukan di laut Padangbai, Klungkung, pada 16 Februari 2009 dalam kondisi mengenaskan

Editor: Luki Herdian

Previous articleDebat Kedua, Polemik Impor Pangan Bisa Terkuak
Next articleAngin Kencang Rusak 4 Rumah Warga Lagoa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here