Jakarta, PONTAS.ID – Puluhan ribu ekor ayam Jowo Super (Joper) yang merupakan bantuan dalam program bedah kemiskinan rakyat sejahtera (Bekerja) dari Kementerian Pertanian (Kementan) di Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) mati mendadak.
Warga dari sejumlah desa melaporkan kalau ayam bantuan berkurang jumlahnya.
Salah seorang warga Desa Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, Sanbakri, mengatakan kalau dirinya tinggal memelihara 40 ekor dari 50 ekor bantuan.
“Ada 10 ekor yang mati mendadak. Saya tidak terlalu tahu apa penyakitnya, tetapi serangannya cepat dan menyebabkan kematian,” ungkapnya, Kamis (15/10/2018).
Kepala Desa (Kades) Cikembulan, Kecamatan Pekuncen, Suparto Ari mengakui kalau warga banyak yang melaporkan kematian ayam bantuan dari Kementan tersebut.
“Di desa kami, ada 199 rumah tangga miskin (RTM) yang mendapat bantuan ayam joper. Umumnya, warga mengaku kalau jumlah bantuan tidak utuh lagi. Masing-masing RTM, sebetulnya mendapatkan bantuan hingga 50 ekor, tetapi saat sekarang ada yang mati,” ujarnya.
Petugas dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkannak) Banyumas, Suryo Wibowo, mengakui kalau di Kecamatan Pekuncen saja, ada setidaknya 24 ribu ekor ayam joper yang merupakan bantuan dari Kementan mati.
“Untuk Kecamatan Pekuncen, ada 16 desa penerima, jumlah RTM mencapai 3.214 keluarga. Secara total, jumlah ayam bantuan mencapai 160 ribu ekor lebih. Ternyata, saat sekarang tersisa 136 ribu lebih, sehingga ada sekitar 24 ribu ekor ayam yang mati,” katanya.
Menurutnya, pihaknya bersama dengan Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates telah mengambil sampel darah ayam yang mati tersebut.
“BBVet telah mengambil sampel darah ayam yang mati untuk diperiksa dan dianalisis penyakitnya, sehingga diharapkan nantinya ada upaya agar ayam tidak semakin banyak yang mati,” katanya.
Suryo mengatakan selain Kecamatan Pekuncen, ada tiga kecamatan lainnya yang mendapatkan bantuan ayam joper yakni Patikraja, Jatilawang dan Kalibagor.
Secara keseluruhan, bantuan untuk Banyumas mencapai sekitar 500 ribu ekor day old chick (DOC). Hanya saja, Suryo tidak mengetahui tingkat kematian ayam di tiga kecamatan lainnya.
Sementara Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinkannak Banyumas, Jan Aririjadi, mengatakan bahwa beberapa waktu lalu, pihaknya juga mengambil sampel darat ayam yang mati di Desa Krajan, Kecamatan Pekuncen.
“Hasilnya, ayam yang mati tersebut diduga kuat akibat virus Newcastle Diseases (ND) atau tetelo. Kami melakukan pemeriksaan di Laboratorium milik Dinas Peternakan Provinsi Jateng di Purwokerto. Kesimpulan itu menguatkan dugaan sebelumnya, karena dalam pemeriksaan rapid test diketahui juga ND,” kata Jan.
Ia mengungkapkan, kalau dinas terkait di daerah sebetulnya hanya melakukan pemantauan saja dan melaporkan. Sebab, mengenai jumlah penerima, kemudian jumlah ayam bantuan serta distribusinya, langsung dilakukan oleh Kementan.
Editor: idul HM




























