Tiga Hal Penting dalam VITO Country Managers Meeting 2018

Jakarta, PONTAS.ID – VITO Country Managers Meeting 2018 yang telah berlangsung di Sofitel Nusa Dua, Bali, telah memberikan highlight pada tiga hal, yaitu 10 Destinasi Prioritas dan 10 Destinasi Branding, Tourism Crisis Management and Communication atau Manajemen Krisis Kepariwisataan, dan Lombok Bangkit.

Demikian disampaikan oleh Plt. Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata I Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Ni Wayan Giri Adnyani. VITO Country Managers Meeting merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Kemenpar, dengan mengundang perwakilan Wonderful Indonesia dari berbagai pasar wisman yang disebut VITO (Visit Indonesia Tourism Officer).

Ni Wayan juga menekankan, bahwa walaupun Kemenpar sedang mengembangkan 10 Destinasi Prioritas, namun tetap harus mempromosikan 10 Destinasi Branding yang faktor 3A-nya (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) sudah siap. Para VITO diharapkan telah memiliki pengetahuan luas mengenai destinasi-destinasi ini.

Dalam acada tersebut pun disoroti juga pentingnya Tourism Crisis Management atau Manajemen Krisis Kepariwisataan. Pariwisata sebagai core economy Indonesia, karena itu sangat penting untuk meyakinkan para wisatawan bahwa Indonesia aman.

“Dengan semakin banyak yang terjadi (bencana alam, dsb), Kemenpar siap memenangkan hati para wisatawan melalui Tourism Crisis Management and Communication,” kata Ni Wayan dalam siaran pers Kemenpar, Senin (29/10/2018).

Sebagaimana diketahui, Kemenpar memiliki Tim Manajemen Krisis Kepariwisataan atau Tim Crisis Center (TCC), yang telah turun langsung dalam penanganan wisatawan dalam beberapa bencana alam yang terjadi pada tahun 2018, yaitu meletusnya Gunung Agung dan Gempa Lombok.

Ni Wayan pun mengapresiasi Tim Crisis Center bersama VITO, yang selama ini telah sangat aktif dan responsif dalam menjaga sentimen positif mengenai Indonesia. Para VITO diharapkan dapat mempercepat recovery dengan menyebarkan berita positif di negara masing-masing.

VITO dengan Kemenpar akan bersama mengimplementasikan grand strategi untuk mengejar 20 juta wisman yang terbagi dalam tiga strategi, yaitu Ordinary Strategy (Branding, Advertising, Selling), Extra Ordinary Strategy (Incentives Access, Hotdeals, Competing Destination Model), dan Super Extra Ordinary Strategy (Border Tourism, Tourism Hub, Low Cost Terminal).

Dalam VITO Country Managers Meeting 2018 ini, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga sempat memberikan keynote speech sekaligus pengarahan. Dimana dia menyampaikan tiga strategi dalam mengejar target 20 juta kunjunga, yaitu Incentive Airlines/Wholeselers, Hot Deals, dan CDM (Competing Destination Model).

“Saya harapkan VITO sudah dapat merumuskan top-3 ataupun top-5 program andalan yang bersifat prioritas untuk tahun 2019, lengkap dengan target dan kebutuhan anggaran yang diperlukan,” ujar Arief.

Dalam VITO Country Managers Meeting 2018 itu juga telah dirumuskan mengenai lima program yang dibahas, yaitu Cash Incentive, Joint Promotion dengan Airlines/Wholesellers, Hot Deals, Tourism Hub, dan Border Tourism.

Untuk Hot Deals, para VITO diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini yang disesuaikan dengan preferensi pasar. Untuk tourism hub, diperlukan diskusi lebih lanjut yang fokus untuk menjaga branding di pasar wisman agar sesuai dengan strategi utama Kemenpar.

Pada Incentive Airlines/Wholesalers, diperlukan pengembangan bentuk insentif yang lebih baik. VITO diharapkan dapat memulai komunikasi dengan airlines/wholesalers, mengindentifikasi potensinya, dengan tetap dalam koordinasi Kemenpar. Yang terakhir, untuk border tourism, diperlukan promosi yang lebih massif terkait semua event cross border.

Editor: Risman Septian

Previous articleKementan Persingkat Waktu Pengurusan Perijinan Ekspor Jadi Tiga Jam
Next article7 Kantong Jenazah Korban Lion Air JT 610 Sudah di RS Polri