Jokowi Gratiskan Tol Suramadu, Cak Efendi: Efektif Turunkan Kemiskinan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai meresmikan pembebasan tarif Jalan Tol Jembatan Suramadu, Jawa Timur, Sabtu, (27/10/2018)

Jakarta, PONTAS.ID – Warga Madura menyambut positif langkah pemerintah mengubah status jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) menjadi non-tol. Masyarakat Jawa Timur yang akan menuju Madura ataupun sebaliknya kini dapat melewati jembatan tersebut tanpa dipungut biaya.

“Saya optimis dampaknya akan segera terasa bagi warga Madura. Salah satunya, karena kebijakan ini otomatis akan mengurangi biaya logistik baik dari Madura maupun yang dari Surabaya,” kata tokoh masyarakat Madura, Moch. Efendi ketika dihubungi PONTAS.id, Minggu (28/10/2018).

Pria yang akrab disapa Cak Efendi ini menambahkan, hanya berselang beberapa saat setelah berubahnya status jembatan tersebut, dirinya melihat respon yang luar biasa dari teman-temannya pengusaha baik yang ada di Madura dan Surabaya berencana melakukan ekspansi usaha di wilayah Madura.

“Para pengusaha lokal yang ada di Surabaya yang selama ini tidak tertarik menginvestasikan dananya di Madura, mendadak berubah pikiran. Ada pengusaha bidang pariwisata, kuliner hingga ekonomi kreatif tertarik berinvestasi di Madura. Ini harus kita dukung demi kemajuan Madura,” imbuhnya.

Efendi juga menyampaikan, kebijakan yang diambil pemerintah ini juga akan meningkatkan pertumbuhan desa-desa yang ada di Madura. Sebab, dalam tiga tahun belakangan ini kehidupan perekonomian desa bergeliat cukup signifikan dengan adanya bantuan Dana Desa dari Pemerintah Pusat.

“Dengan menurunnya biaya logistik ditambah meningkatnya anggaran dana desa akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan tentu akan dapat mempercepat penurunan tingkat kemiskinan yang saat ini masih berada di kisaran 16-23 persen,” kata dia.

Dongkrak Ekonomi
Sebelumnya, Presiden Jokowi memutuskan Jembatan Suramadu menjadi jembatan non tol mulai Sabtu (27/10/2018), hingga seterusnya.

Pasalnya, Tingkat kemiskinan di Madura yang masih berkisar 16-23 persen sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo, yang angka kemiskinannya berada di kisaran 4-6,7 persen.

Di sisi lain, pembangunan jembatan tol Surabaya-Madura (Suramadu) yang dioperasikan sejak 2009 silam, tidak mampu mengangkat perekonomian di wilayah Madura.

Presiden juga mengungkapkan, sejak tahun 2015 dan 2016, pemerintah banyak mendapat masukan dari berbagai elemen masyarakat, pemerintah telah melakukan penyesuaian tarif, namun tak kunjung memberikan dampak positif bagi perekonomian Madura.

“Kami harapkan dengan menjadi jembatan non tol, pertumbuhan ekonomi Madura semakin baik. Sekali lagi, ini adalah keputusan sebagai bentuk rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, utamanya bagi Madura,” kata Presiden di Jembatan Suramadu.

Jembatan Terpanjang
Sebagaimana diketahui, Jembatan Suramadu dioperasikan oleh PT Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol. Dengan berubah statusnya menjadi jalan umum non tol, masyarakat tidak lagi dikenakan tarif tol untuk melewati jembatan sepanjang 5,4 km tersebut.

Jalan Tol Jembatan Suramadu diresmikan pemakaiannya sejak 10 Juni 2009. Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya Timur Kamal), Indonesia.

Dengan panjang 5,4 Km, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian, yaitu jalan layang (causeway) jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).

Data Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol mencatat, rata-rata lalu lintas harian di Tol Jembatan Suramadu sebesar 19 ribu kendaraan per hari yang 86 persen didominasi oleh kendaraan golongan I.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

Previous articleBNPB: Data sementara Dampak Gempa Sulteng Capai 18,4 Triliun
Next articleJaktim, Jaksel dan Jakbar Diprediksi Hujan Disertai Angin Kencang Sore Hari