Indonesia-Uni Eropa Lanjutkan Perundingan IEU-CEPA di Palembang

Palembang, PONTAS.ID – Perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) Putaran ke-6 berlangsung pada 15-19 Oktober 2018 di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Perundingan IEU CEPA merupakan salah satu perundingan paling ambisius dan komprehensif bagi Indonesia. Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo.

Adapun anggota delegasi Indonesia terdiri atas perwakilan berbagai instansi pemerintah yang berwenang atas isu-isu yang dirundingkan. Sementara itu, Ketua Juru Runding Uni Eropa adalah Deputy Director-General of Trade, Komisi Eropa, Helena König.

“Perundingan IEU CEPA adalah salah satu prioritas Indonesia saat ini mengingat besarnya perekonomian dan pasar Uni Eropa dan kerja sama yang dapat dikembangkan bersama kedua pihak,” kata Iman dalam siaran pers Kementerian Perdagangan (Kemendag), Rabu (17/10/2018).

Menurut Iman, Perundingan Putaran ke-6 akan mencakup isu runding perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, hak kekayaan intelektual, persaingan usaha dan subsidi, perdagangan dan pembangunan berkelanjutan, perdagangan barang dan jasa pemerintah, karantina, aturan standar, dan mekanisme penyelesaian sengketa.

Dengan jumlah populasi sebesar 516 juta jiwa serta daya beli masyarakatnya yang tinggi, menjadikan Uni Eropa sebagai salah satu mitra penting bagi Indonesia saat ini.

“Kami yakin, perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa nantinya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja baru dan kesempatan baru bagi UKM, alih teknologi, serta menempatkan Indonesia pada posisi lebih baik dalam mata rantai global,” ujarnya.

Lebih lanjut Iman menegaskan, bahwa saat ini dunia tengah mengalami tantangan global, dimana terjadi friksi perdagangan di antara negara-negara besar. Namun, Indonesia dan Uni Eropa justru ingin menunjukkan keterbukaan melalui kerja sama, dialog, dan kolaborasi melalui CEPA.

“Presiden RI (Joko Widodo) di berbagai kesempatan menegaskan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah bersatu bahu-membahu dan bekerja sama antarnegara agar pertumbuhan ekonomi dunia melaju,” tutur dia.

Pada putaran ke-6 ini, terdapat kemajuan yang substansial dalam hal akses pasar. Indonesia dan Uni Eropa telah melakukan pertukaran penawaran (offer) untuk akses pasar jasa serta investasi, serta melengkapi pertukaran offer barang yang telah dilakukan pada perundingan sebelumnya.

“Di berbagai perundingan, akses pasar adalah salah satu isu utama yang menentukan arah perundingan secara keseluruhan. Untuk itu, pertukaran offer jasa dan investasi diharapkan dapat menjadi momentum positif untuk akselerasi penyelesaian negosiasi IEU CEPA,” imbuh Iman.

Perundingan IEU CEPA diluncurkan secara resmi melalui Pernyataan Bersama di Jakarta dan Brussels pada 18 Juli 2016, yang diikuti oleh pertemuan pembuka pada 20-21 September 2016 di Brussels, Belgia.

Perundingan kemudian dilanjutkan di Putaran ke-2 pada bulan Januari 2017 di Bali, Putaran ke-3 pada bulan September 2017 di Brussels, Putaran ke-4 pada bulan Februari 2018 di Surakarta, dan Putaran ke-5 pada bulan Juli 2018 di Brussels.

Pemerintah RI sendiri menargetkan agar perundingan IEU CEPA dapat diselesaikan secara substansial pada semester pertama tahun 2019.

“Meskipun perundingan IEU CEPA diupayakan selesai sesuai target, bukan berarti asal sepakat. Kedua pihak menginginkan perjanjian yang kredibel dan saling menguntungkan,” pungkas Iman.

Untuk diketahui, total perdagangan Indonesia-Uni Eropa pada tahun 2017 mencapai 28,8 miliar dolar AS, atau meningkat 14,7 persen dibandingkan tahun 2016. Ekspor Indonesia yang sebesar 16,3 miliar dolar AS dan impor sebesar 12,5 miliar dolar AS, membuat Indonesia menikmati surplus sebesar 3,8 miliar dolar AS.

Produk ekspor utama Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2017 adalah minyak kelapa sawit, alas kaki, karet alam, asam lemak monokarboksilat, serta kelapa (kopra) dan minyak kernel.

Sementara pada tahun yang sama, produk impor utama Indonesia dari Uni Eropa adalah perangkat telepon, mesin cuci, obat-obatan, peralatan pembangkit listrik, dan kendaraan bermotor.

Nilai investasi Uni Eropa di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 3,2 miliar dolar AS, atau meningkat 16 persen dari tahun sebelumnya.

Editor: Risman Septian

Previous articleKemenperin Sempurnakan Peta Jalan Industri Fesyen Muslim
Next articleTerkendala Lahan, JSB Optimis Tol Semarang Batang Sesuai Target

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here