Gelaran IMF-World Bank Diyakin Bisa Hentikan Perang Dagang AS-Cina

diskusi “Miliaran Dana Annual Meeting IMF Darimana” di media center gedung DPR

Jakarta, PONTAS.ID – Pertemuan tahunan IMF-World Bank yang berlangsung di Bali mestinya bisa memberi “tekanan” kepada negara-negara besar, terutama negara-negara yang menguasai ekonomi dunia. Bahkan seharusnya juga bisa menghentikan perang dagang.

“AS itu negara besar yang sedang gelisah. Trump seolah meyakinkan rakyatnya, bahwa kalau kita besar, maka tak bisa digoyang,” kata anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno dalam diskusi “Miliaran Dana Annual Meeting IMF Darimana?” di media center gedung DPR, Kamis (11/10/2018).

Selain Hendrawan turut hadir Waketu Partai Gerindra Arief Poeyono dan Direktur Eksekutif INDEF Enny Sri Hartati.

Biasanya, kata Hendrawan, negara-negara yang gelisah itu kembali pada pegangan, alias doktrin lama. Karena itu untuk kembali membangkitkan jati dirin rasa percaya AS.

“Padahal saat ini, mereka sedang krisis kepercayaan, karena nun jauh di sana ada negara yang cukup menakutkan, yakni Cina. Bahkan Cina malah menantang, mau perang dagang, saya layani. Begitupun dengan perang Valas, juga saya layani,” terangnya.

Tinggal satu yang belum terlontar oleh Cina, sambung anggota Fraksi PDIP, yakni perang nuklir. Karena saat ini Cina baru memiliki 2 kapal induk. Sementara AS sudah memiliki puluhan.

“Disisi lain, Trump juga sedang pusing dan marah ke pejabat Bank Sentral AS (The Fed). Karena menaikkan suku bunga, sehingga dampaknya mengerek bunga obligasi. Masalahnya, banyak SUN dari AS yang dibeli perusahaan-perusahaan Cina,” tambahnya.

Dirinya, lanjut Hendrawan, baru mendengar pertemuan IMF dan World Bank (WB) sudah menghasilkan kesepakatan bisnis senilai Rp 35 triliun dari Rp 600 triliun yang ditawarkan untuk investasi di dunia.

“Tentu kerja keras delegasi Indonesia dalam pertemuan itu harus dilakukan agar nilai investasinya lebih besar lagi. Sehingga akan lebih bermanfaat untuk rakyat,” tegasnya.

Menurut Hendrawan, 189 negara yang tergabung termasuk Indonesia sulit akan meninggalkan IMF dan WB karena perusahaannya sudah menggurita di dunia.

“Kantornya di Jakarta termasuk yang terbesar. Kantor itu banyak diisi oleh doktor-doktor dari Universitas Indonesia dan lain-lain,” ujar Ketua DPP PDIP.

Sementara Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan itu sendiri sudah diusulkan sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan ini berarti Indonesia dipercaya dunia dengan berbagai pertimbangan. Khususnya keamanan.

“Jadi, salam kami kepada Pak SBY, yang telah mengusulkan Indonesia sebagai tuan rumah. Tapi, kalau beliau menghendaki audit anggaran pertemuan, silakan saja. Kan, sudah dilakukan dengan transparan. Biayanya sekitar Rp 500 miliar,” jelas Hendrawan lagi.

Karena itu, wajar utusan Demokrat dan PAN hadir dalam pertemuan itu. Hanya Gerindra dan PKS, yang sampai hari ini belum tampak dalam pertemuan IMF – WB tersebut. Hanya saja kata Hendrawan, salah kalau Indonesia bisa didekte oleh IMF dalam hal ekonomi.

“Kita ini punya banyak ilmuwan handal kelas dunia. Seperti pemikiran ekonomi Bung Hatta, Bung Karno dan lain-lain. Jadi, konyol kalau Indonesia hanya akan mengikuti kemauan IMF,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah sudah melakukan berbagai penghematan. Dari efisiensi souvenir Rp 90 miliar, hiburan Rp 50 miliar, penjemputan dengan Mercedes 200 dan lain-lain. “Intinya spirit kehati-hatian dan penghematan sudah dilakukan. Termasuk DPR RI harus hemat bersama,” pungkasnya.

Harap Capital Inflow

Ditempat yang sama, Enny Sri Hartati berharap pelaku bisnis ada dampak dari Annual Meeting IMF-World Bank di Bali. Setidaknya bisa membuat capital inflow ke Indonesia. Sehingga dampak jauhnya memberi pengaruh positif untuk rupiah.

“Tentu kita harapkan dampaknya untuk Indonesia, bukan sekedar cipika-cipiki antar Gubernur Bank seluruh dunia,” kata Enny.

Namun, kata Enny, pihaknya tak sepakat jika dikatakan pertemuan tersebut hanya hura-hura. Karena memang sudah lama dijadwalkan. Apalagi ini hajat negara. “Saya tidak setuju, yak kalau dikatakan lebay,” tegasnya.

Yang penting, lanjut Enny, dalam jangka pendek ini pertemuan itu bukan sekedar seremoni. Namun harus menghasilkan kesepakatan bersama atau protokol menghentikan perang dagang antara Amerika dan China. “Setidaknya membuat investor main percaya dengan Indonesia. Sehingga menahan capital outflow,” paparnya.

Malah, ujarnya, pertemuan itu harus bisa membuat protokol menekan kekuatan Amerika Serikat dan China, sehingga negara-negara berkembang yang tergabung dalam IMF tidak tertekan terus oleh dollar AS. Sementara untuk Indonesia sebagai tuan rumah, harus diaparesiasi karena mendapat kepercayaan dunia atas berbagai pertimbangan. Selain pertimbangan keamanan dan lain-lain yang tidak mudah dimiliki negara lain.

Hanya saja manfaat atau feedback dari pertemuan itu secara ekonomi harus didapatkan secara konkret. Sehingga tak terkesan hanya seremoni. “Selama ini saham IMF terbesar adalah AS, dan negara anggota cenderung mengikuti kebijakan IMF. Karenanya keberanian untuk menghasilkan kesepakatan menekan AS harus dilakukan. Kalau tidak, krisis global seperti sekarang ini akan terus terjadi,” jelas Enny.

Bisa dibayangkan, Turki yang semula ekonominya bagus, tapi karena tidak mendapat dukungan AS, tiba-tiba Lira-nya anjlok. “Inilah yang membuat dunia tidak tenang dan krisis global akan terus tak menentu. Untuk itu pertemuan IMF di Bali harus berani menekan AS,” ungkapnya.

Artinya, Indonesia harus mempunyai bergaining position dalam pertemuan IMF tersebut. Sebab, sebagai anggota G-20, kedudukannya sama. Sehingga pertemuan IMF di Bali ini bisa dimanfaatkan untuk menaikkan bergaining position Indonesia. “Kalau tidak, maka dalam kasus minyak sawit yang disebut tak lolos uji lingkungan tak bisa berbuat apa-apa. Jadi, kita jangan terus-menerus dikangkangi IMF,” ungkapnya.

Selain itu, dengan bergaining position tersebut kata Enny, kekhawatiran dollar AS terus menguat menjadi Rp 16 ribu hingga Rp 17 ribu bisa hilang.“Kalau kita dipercaya,convidence, dan memiliki bergaining position tak akan khawatir terhadap dollar AS,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here