Susno Duaji: Sampah Pendukung Utama Pertanian Organik

Susno Duaji, (Foto: Ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation, Asrul Hoesein mengklaim bahwa sampah organik di Indonesia lebih banyak ketimbang sampah anorganik, dengan perkiraan persentase hingga 70% : 30%. Dilain sisi, Sampah orgnanik itu dapat dijadikan sebagai pupuk untuk pertanian.

Akan tetapi Kementerian Pertanian selalu gagal memenuhi target penyediaan pupuk organik subsidi secara nasional (data yang dimiliki media ini adalah tahun 2016 dan 2017) tidak pernah tercapai.

Menjawab pertanyaan media ini, Susno Duadji mengenai sampah atau limbah masyarakat yang bisa dimanfaatkan oleh para petani mengatakan, sampah organik sangat bisa dikelola menjadi pupuk, ujar mantan petinggi Polri yang sekarang menjadi pemerhati dan pelaku bisnis pertanian ini.

Perhatian dunia saat ini, kata Susno, sedang berupaya untuk menciptakan bumi organik, banyak negara berupaya untuk memperpanjang ekosistem alam, salah satunya adalah pertanian organik. Dunia saat ini sedang berupaya keras untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia dalam dunia pertanian, ungkapnya.

Begitu juga dengan Asrul Hoesein, saat ditemui media ini menyampaikan bahwa mengkonsumsi makanan organik tidak saja menyehatkan bagi petani dan masyarakat (konsumen) tetapi dapat memperpanjang ekosistem alam. Pada dasarnya, memang banyak negara di dunia telah setuju untuk menuju kearah terciptanya sebuah bumi organik.

Lebih lanjut, Asrul menerangkan, kesadaran masyakat Indonesia terhadap pola makan yang sehat tercermin dari makin banyaknya pilihan dalam mengonsumsi makanan seperti beras, buah dan sayur.

Hal itu seiring dengan meningkatnya kesadaran dan kebutuhan akan perlunya hidup sehat dengan cara mengkonsumsi makanan sehat yang di produksi secara alami tanpa penggunaan bahan-bahan kimia serta rekayasa genetik seperti beras, buah dan sayuran organik.

Lingkungan pertanian, tanaman pangan beras, kedele dan jagung serta tanaman hortikultura buah dan sayuran organik lebih aman dan ramah khususnya terhadap ekosistem lahan pertanian seperti tanah, udara, dan air.

Asrul Hoesein menjelaskan, ia pernah mengunjungi Korea Selatan, pertanian organik di sana sudah jauh lebih maju dan memanfaatkan sampah organik untuk diproduksi sendiri oleh petani dibawah naungan Koperasi Pertanian National Agricultural Cooperative Federation (NACF) Korea Selatan.

Membangun sektor pertanian organik, akan memperkuat dan mempercepat pembangunan yang membawa kemakmuran bagi semua orang“, ujarnya.

Pertanian Organik

Asrul Hoesein menjelaskan lebih jauh, ada kendala utama menjadikan makanan organik di Indonesia mahal. Hal itu menandakan bahwa belum terbangunnya infratruktur pertanian dan perkebunan organik secara massif dan terstruktur. Maka produksinya disebut-sebut menjadi “mahal”.

Nampak pemerintah pusat dan daerah belum sepenuhnya mendukung masalah pengembangan pertanian organik. Padahal pemerintahan sebelum dan sampai dengan pemerintahan Presiden Jokowi selalu saja memberi subsidi pupuk organik ke petani.

Tapi semua itu tidak memberi pengaruh positif kepada petani agar bergairah melaksanakan usaha pertanian organik (biologi/ekologi). Malah terjadi sebaliknya, petani lebih memilih pertanian konvensional (kimiawi).

Kondisi ini bisa dipastikan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah tidak maksimal mengawal petani untuk meninggalkan pertanian konvensional yang mengandalkan pupuk kimia ke pertanian organik.

Sesungguhnya pertanian konvensional (kimia) lebih berbiaya mahal dalam operasionalnya di tingkat petani dibanding pertanian organik. Memang di tingkat awal pertanian organik berbiaya mahal, karena terjadi perubahan signifikan pada struktur tanah yang sudah jenuh dengan pupuk kimia. Tapi pada tahap selanjutnya biaya akan menurun bila kondisi tanah pertanian dan perkebunan sudah stabil.

“Sampah organik menjadi penopang utama dalam pembangunan pertanian dan perkebunan organik di Indonesia dan sangat perlu diberikan kewenangan kepada petani untuk mengolah dan memproduksi sendiri kebutuhan pupuk organik mereka”, terangnya.

Editor: Idul HM

Previous articlePengusaha dan Mantan Militer Siapa Paling Unggul
Next articleMenperin Ajak Diaspora Indonesia di Korea Realisasikan Industri 4.0