Bandara Fatmawati dan KEK Pulau Baai Picu Pariwisata Bengkulu

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya memprediksi bahwa pariwisata di Provinsi Bengkulu bakal semakin maju, pasca dikelolanya Bandara Fatmawati dari UPT Kemenhub ke PT Angkasa Pura II (PT. AP II) baru-baru ini.

Selain itu, tambah dia, rencana akan segera disetujuinya Pulau Baai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang di dalamnya terdapat KEK Pariwisata, juga bakal menjadi pemicu kuat perkembangan pariwisata di Provinsi Bengkulu.

“Kami yakin setelah Bandara Fatmawati dikelola AP II akan terjadi kemajuan besar bagi pariwisata Bengkulu,” kata Arief dalam siaran pers Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Kamis (6/9/2018).

Arief menegaskan, bahwa Kemenpar mendorong pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu serta para wakil rakyat disana, agar Bandara Fatmawati nantinya bisa ditingkatkan menjadi bandara internasional dalam rangka meningkatkan kunjungan wisman ke Bengkulu.

“Pengalaman selama ini ketika Bandara Banyuwangi, Bandara Silangit Tapanuli Utara, dan Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Belitung ditingkatkan menjadi bandara internasional, kini ada penerbangan internasional yang secara rutin membawa wisman ke sana,” ujarnya.

Arief pun berharap dengan adanya KEK Pariwisata di Pulau Baai yang terintregasi dengan pelabuhan, industri, dan pariwisata dan letaknya tidak jauh dari pusat kota dan Bandara Fatmawati, sangat memungkinkan untuk mewujudkan rencana tersebut.

Dia menambahkan, dalam mengembangkan pariwisata ketersediaannya unsur 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) yang memadai menjadi tuntutan utama, terutama konektivitas penerbangan langsung dari sumber-sumber wisman atau originasi ke destinasi Bengkulu.

Sementara itu Anggota Komisi X DPR RI Dapil Bengkulu, Dewi Coryati mengatakan, pihaknya bersama anggota DPRD dan Gubernur Bengkulu dan tokoh-tokoh masyarakat akan terus berusaha mewujudkan rencana tersebut. Sehingga nantinya Provinsi Bengkulu menjadi destinasi unggulan yang dapat berkontribusi besar terhadap kunjungan wisman ke Indonesia yang mentargetkan 20 juta wisman pada 2019.

Menurut Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, unsur 3A untuk mendukung pariwisata Bengkulu memang masih terkendala aksesibilitas. Sedangkan untuk unsur atraksi relatif sudah memadai, karena Bengkulu sudah lama terkenal ke mancanegara dengan atraksi wisatanya yaitu Bunga Raflesia serta wisata sejarah nasional dan dunia dengan peninggalan Rumah Ibu Negara Fatmawati (Rumah Pengasingan Presiden Soekarno).

Selaim itu, terdapat pula benteng peninggalan Inggris, Malborough, yang menyimpan sejarah di mana Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda, dan menerima Singapura sebagai wilayah jajahannya dalam Tratak London 1824.

“Secara historis Bengku mempunyai kedekatan dengan Singapura dan London Inggris. Dengan adanya penerbangan langsung internasional nantinya diharapkan nantinya akan banyak membawa wisatawan dari pasar Singapura maupun Inggris dan Eropa pada umumnya,” ucap Rohidin.

Untuk diketahui, di tahun 2018 ini Bengkulu mempunyai 52 event unggulan yang digelar sepanjang tahun. Festival Tabot merupakan satu-satunya event dari Provinsi Bengkulu yang masuk 100 Calender of Event (CoE) Wonderful Indonesia dan didukung penuh oleh Kemenpar. Pelaksanaan festival dan ritual Tabot Bengkulu berlangsung selama 10 hari yang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang dikenal dengan Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu.

Editor: Risman Septian

Previous articleUntung Tri Basuki: Primer Koperasi Strategi Pengelolaan Sampah Nasional
Next articleRUU Daerah Kepulauan Diharapkan Jadi Platform Poros Maritim Jokowi