Baja Indonesia Akan Masuk AS Dengan Tarif Nol Persen

Baja, ( Foto: Ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Amerika Serikat (AS) memberikan pengecualian terhadap 19 produk baja jenis carbon and alloy dan stainless steel (baja tahan karat) asal Tanah Air dari tarif impor baja global yang ditetapkan sebesar 25%.

Dengan pengecualian tersebut, produk baja terpilih asal Indonesia bisa masuk ke pasar Negeri Paman Sam dengan tarif impor 0%.

Kabar baik itu merupakan hasil konkret diplomasi ekonomi yang dilakukan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross di Washington DC, AS, pada 23-27 Juli lalu.

Enggartiasto tidak hanya berhasil meyakinkan pemerintah AS tetapi juga para pelaku bisnis, bahwa produk-produk baja dan alumunium yang diimpor dari Indonesia tidak diproduksi di negara adidaya itu. Di sisi lain, industri di sana memiliki kebutuhan akan produk tersebut yang harus dipenuhi.

“Kami yakinkan kepada mereka bahwa Indonesia pantas untuk dikecualikan dari tarif global AS karena produk Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk di AS dan sudah masuk ke dalam rantai nilai global AS. Pengecualian ini tidak hanya menguntungkan Indonesia tetapi juga industri AS,” ujar Enggartiasto melalui keterangan resmi, Senin (3/9).

Keputusan tersebut secara resmi dikeluarkan pihak AS pada 2 Agustus silam.

Sebelumnya, Indonesia juga pernah memperoleh pengecualian untuk 161 permohonan produk baja carbon and alloy dengan total volume sebesar lebih dari 7.211 ton dan aluminium sheet sebesar 1.680 ton.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati mengungkapkan saat ini masih terdapat 12 permohonan pengecualian produk baja Indonesia dengan kuantitas lebih dari 336.688 ton dan 276 permohonan pengecualian produk aluminium Indonesia dengan kuantitas lebih dari 367.351 ton. Semuanya masih menunggu putusan dari pemerintah AS.

“Pemerintah akan terus melakukan komunikasi intensif dengan AS. Upaya pendekatan secara langsung seperti ini sangat penting, terutama di tengah kondisi perang dagangnseperti ini,” tuturnya.

Berdasarkan data BPS, ekspor baja Indonesia ke AS sepanjang semester pertama 2018 mencapai US$139 juta, meningkat 78% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sedangkan ekspor aluminium Indonesia ke AS pada Januari-Juni 2018 tercatat sebesar US$147 juta, atau naik 47% dibandingkan periode yang sama di 2017.

Kebijakan menaikkan tarif impor produk baja dan aluminium dilakukan pemerintah AS pada 23 Maret silam. Tarif impor keduanya dinaikkan menjadi 25% dan 10% setelah sebelumnya diterapkan kebijakan tarif 0%.

Dasar kenaikan tarif tersebut adalah hasil penyelidikan Kementerian Perdagangan AS (US Department of Commerce) yang dilaksanakan atas mandat Section 232 of the Trade Expansion Act of 1962, dimana ditemukan adanya ancaman terhadap keamanan nasional dari impor baja dan aluminium ke AS dari seluruh negara di seluruh dunia, kecuali Australia.

Editor: Idul HM

Previous articlePemprov DKI akan Kaji Ganjil-Genap dari Sisi Sosial-Ekonomi
Next articleSeptember 2018, HPE Produk Tambang Dipengaruhi Harga Internasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here