Survei LSI: Publik Makin Khawatir dengan Aksi Terorisme

Jakarta, PONTAS.ID – Masyarakat Indonesia saat ini ternyata semakin khawatir dengan aksi-aksi terorisme, karena dianggap sudah berada di titik nadir, dengan melibatkan ibu rumah tangga dan anak-anak. Persentasenya bahkan mencapai 82 persen. Publik berharap munculnya civil society yang powerfull untuk menanggulanginya.

Demikian hasil temuan terbaru survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA. Survei itu dilakukan pada 28 Juni sampai 5 Juli 2018, melalui face to face interview dengan menggunakan kuesioner kepada sebanyak 1200 responden yang tersebar di 34 provinsi yang ada di Negara Republik Indonesia (RI).

“Publik yang semakin khawatir dengan aksi-aksi terorisme berada pada angka 82 persen. Publik yang menyatakan biasa saja 9,3 persen. Nyaris tidak ada yang menyatakan semakin tidak khawatir, karena angkanya hanya nol koma saja. Sisanya mengaku tidak tahu, tidak jawab,” kata Peneliti LSI, Ardian Sopa, Selasa (31/7/2018).

Dia menambahkan, publik yang makin khawatir dengan aksi terorisme itu jika dilihat dari jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan mayoritas semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Sebanyak 80,5 persen untuk laki-laki, dan 83,5 persen untuk perempuan. Perempuan sedikit lebih khawatir dibandingkan dengan laki-laki.

“Jika dilihat dari pemeluk suatu agama, disemua pemeluk agama mayoritas merasa semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Diatas 80 persen semua pemeluk agama makin khawatir. Di segmen pendidikan, memperlihatkan hal yang sama. Apapun jenjang pendidikannya, semakin khawatir dengan aksi terorisme ini,” ujarnya.

Dalam survei itu, publik yang lulus SD atau di bawahnya, tamat SLTP/sederajat, tamat SLTA/sederajat diatas 80 persen menyatakan semakin khawatir dengan aksi terorisme ini. Untuk jenjang pendidikan pernah kuliah atau di atasnya, yang semakin khawatir juga mayoritas berada pada angka 76,9 persen.

“Wong cilik maupun wong berada mayoritas menyatakan semakin khawatir dengan hal ini. Untuk masyarakat dengan pendapatan kurang dari satu juta, 79,6 persen menyatakan khawatir. Penghasilan 1-2 juta, 81,5 persen menyatakan semakin khawatir. Penghasilan di atas 3 juta 85,4 persen juga sependapat,” tukas dia.

Editor: Risman Septian

Previous articleBelajar IKM di Indonesia, Peserta Colombo Plan Diapresiasi Kemenperin
Next articleMembuka Pesparawi, Menko Luhut: Berbeda itu Indah