Hara Kembangkan Solusi Blockchain di Sektor Pertanian

Chief Technology Officer Hara, Imron Zuhri.

Jakarta, PONTAS.ID – Kehadiran teknologi blockchain sejak beberapa tahun terakhir, mampu merevolusi era digital. Terlebih, teknologi ini mempunyai kegunaan yang sangat luas dalam berbagai sektor industri.

Indonesia sendiri telah memiliki beberapa perusahaan yang mulai mengembangkan teknologi blockchain. Salah satunya adalah Hara, yang merupakan perusahaan pertukaran data berbasis blockchain.

“Dimulai dari sektor pangan dan pertanian sebagai fokus awal, Hara menjadikan Indonesia sebagai pilot project sejak tahun 2015,” jelas Chief Technology Officer Hara, Imron Zuhri, pada acara Blockchain Media Workshop di Jakarta, Kamis (19/7/2018) petang.

Imron mengatakan, Hara merupakan blockchain for social impact pertama di Indonesia, yang memberikan solusi berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan dalam pasar pertukaran data (data-exchange) dalam sektor-sektor yang paling memiliki dampak sosial di dunia.

Imron menambahkan, Hara menyediakan data bagi pelaku sektor pangan dan pertanian yang berkaitan dengan data petani, geo-tagging, aktivitas pertanian yang ada di lapangan, data cuaca, tanah, satelit, dan informasi data terkait pasar dan transaksi. Selain itu, Hara juga menyediakan data terdekat (near time data) yang sangat berharga untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kerugian dan menciptakan efisiensi pasar.

“Kami mengundang pemain di sektor pertanian terkait, yang berasal dari pemerintah, instansi keuangan, dan organisasi non-profit atau NGO yang tergabung dalam ekosistem Hara yang berkelanjutan, karena pada dasarnya semua pemangku kepentingan yang memiliki data dan membutuhkan data,” paprnya.

Melalui proses validasi lapangan selama beberapa tahun terakhir, Hara telah menemukan kombinasi empat pemangku kepentingan yang dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan yaitu penyedia data (data provider), pembeli data (data buyer), kualifier data (data qualifier) dan layanan bernilai tambah atau added value service.

“Dalam hal ini, Hara sudah menggandeng beberapa instansi besar diantaranya, Prisma, BNI, dan perusahaan penelitian pertanian BOI Research, yang termasuk dalam ekosistem Hara,” kata Imron.

Menurutnya, pada tahap lebih lanjut, Hara akan menggunakan smart contract untuk memastikan terpenuhinya segala hal yang tercantum dalam persetujuan dari pemilik data berdasarkan General Data Protection Regulation (GDPR) yang dianut Uni Eropa.

“Penyebaran implementasi Hara dimulai di Indonesia, yang selanjutnya direncanakan untuk memperluas area cakupan di beberapa negara, dimana pertanian menjadi komoditas utama dalam pengembangan perekonomian seperti Vietnam, Thailand, Bangladesh, Kenya, Uganda, Meksiko dan Peru,” pungkasnya.

Editor: Idul HM

Previous articleHanura Santai Diprediksi Tak lolos ke Senayan
Next articlePIKKO Minta Kemenperin Libatkan Anggotanya Ikut Pasok Kebutuhan Mobil Listrik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here