Jakarta, PONTAS.ID – Pemanfaatan media sosial untuk menggulirkan informasi saat ini deras mengalir, sehingga sulit membedakan antara informasi yang benar dan tidak.
Wakil Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar pun memberikan cara bermedia sosial yang bijaksana agar tidak merusak ibadah puasa.
Menurut Arcandra, media sosial adalah salah sarana untuk berkomunikasi. Sebagai makhluk sosial keberadaanya sangat membantu, namun demikian dalam penggunaanya juga harus lebih bijaksana.
“Dalam bersosial media saya selalu sampaikan bahwa sosial media menjadi sarana kita untuk berkomunikasi yang banyak, tapi ingat (sosial media) juga menjadi bahan interopeksi kita selama Ramadhan. Jangan sampai “membunuh” aktivitas-aktivitas produktif kita hanya dengan WA (WhatsApp), dan jangan sampai habis waktu dengan ber-WA saja,” ujar Arcandra saat menjadi pembicara di salah satu TV Swasta beberapa waktu lalu, seperti dilansir laman ESDM.go.id, Minggu (20/5/2018).
Seringkali, berita yang diterima langsung disebarluaskan tanpa diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Kita, lanjut Arcandra dengan sangat mudah men-share berita, atau informasi apa saja menggunakan media sosial tersebut.
Untuk itu, menurut Arcandra penting memperhatikan etika dalam men-share sebuah berita atau informasi yang kita dapat.
“Di dalam Al-Quran ada etika ketika kita menerima informasi, yakni di dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 yang artinya, ‘Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,'” jelas Arcandra.
Berdasarkan ayat tersebut, sambung Arcandra, kalau kita menerima berita harus tabbayun, untuk meriksa berita itu, “Nah sekarang bagaimana sikap kita ketika menerima berita? Langsung send (kirim) tanpa melihat? Padahal perintah agama itu periksa dulu berita itu sebelum kita sebarkan,” lanjut Arcandra.
Dia menambahkan, kutipan ayat Al-Quran tersebut mengandung sebuah pelajaran yang penting agar sebagai penerima informasi, kita tidak dengan mudah begitu saja menyebarkan informasi yang kita terima sebelum memeriksa terlebih dahulu kebenaranya.
Masih menurut Arcandra, aktivitas di media sosial juga jangan sampai merusak ibadah puasa Ramadhan.
“Bermedia sosial harus bijaksana, jangan sampai juga merusak puasa Ramadhan. Kita melakukan ibadah, ternyata kita ‘jebol’ juga di media sosial,” pungkas Arcandra.
Editor: Hendrik JS




























