Gerindra Bantah Prabowo Jalankan Strategi Donald Trump

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Partai Gerindra membantah jika Prabowo Subianto dituding menjalankan strategi Donald Trump untuk memenangkan Pilpres 2019.

“Itu enggak benar. Donald Trump itu maju Pilpres baru 2016, tapi Pak Prabowo sudah lama sejak 2009,” kata Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria, Rabu (4/4/2018).

Prabowo dinyatakannya bukan menjalankan strategi Donald Trump pada Pilpres Amerika Serikat 2016 untuk konteks Indonesia saat ini. Prabowo hanya menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia banyak yang masih miskin padahal negara ini sebenarnya kaya.

“Beliau bukan mempertentangkan yang kaya dan yang miskin. Tapi faktanya, memang elite kita bermasalah. Berapa banyak kepala daerah kena Operasi Tangkap Tangan? Berapa banyak juga anggota dewan dan legislatif yang kena? Kok era reformasi ini menjadikan elite tidak malu korupsi? Ini yang menjadi perhatian kita bersama,” tutur Riza.

Prabowo hanya menyampaikan fakta dan data yang ada, misalnya soal ketimpangan penguasaan lahan. Soal ‘Indonesia bubar 2030’ yang sempat diutarakan Prabowo, itu bukanlah wujud pesimisme melainkan Prabowo hendak mengajak masyarakat berpikir korektif.

“Tidak ada yang menyebar ketakutan. Justru kita ingin koreksi yang konstruktif, masyarakat jangan selalu dinina-bobokan,” kata dia.

Prabowo juga tidak meniru slogan kebangkitan yang nada-nadanya mirip dengan slogan ‘Make America Great Again’. Prabowo memang selalu menyuarakan tema kebangkitan Indonesia, kebangkitan macan Asia.

“Beliau berani, tegas, dan optimis. Maka sejak dulu dia bicara soal kebangkitan macan Asia, sejak 2009. Donald Trump kan baru 2016,” kata Riza.

Tiru Donal Trump

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai Prabowo tengah menjalankan strategi yang digunakan Donald Trump. Prabowo disebut sedang mempertentangkan kalangangan bawah dan atas, serta menyebarkan pesimisme dan rasa takut.

“Menurut saya, ini agak mirip. Jadi yang disebarkan adalah pesimisme, kemudian ketakutan. Dan kalau kita lihat kasus di Amerika ternyata pesimisme dan ketakutan itu dibeli oleh rakyat Amerika sehingga mereka memilih Donald Trump,” tutur Qodari, Selasa (3/4/2018).

Qodari mengutarakan, Prabowo mencoba menyampaikan rasa takut seperti Trump menebar ketakutan AS di bawah ancaman asing, seperti tenaga migran dari Meksiko dan ancaman Islam.

“Jadi kalau ketakutan dan pesimisme ini dikembangkan dan kemudian mempengaruhi mayoritas masyarakat Indonesia, maka kecenderungannya akan memilih Prabowo, bukan memilih Jokowi,” tutur Qodari.

Pesan-pesan yang disampaikan Prabowo selama ini, kata dia, dapat diterjemahkan sekarang dan ke depan kondisi tidak akan baik kalau bukan Prabowo yang menjadi pemimpin.

Namun, Qodari menilai politik ketakutan belum diketahui efektivitasnya di Indonesia, apalagi strategi tersebut baru digunakan Prabowo akhir-akhir ini.

Selain politik ketakutan, beber dia, strategi Trump adalah mempertentangkan kalangan bawah dengan kalangan atas, yakni persoalan kesenjangan.

“Saya belum mengatakan itu akan efektif atau tidak, untuk pastinya harus lihat perkembangan opini publik dan surveinya, karena Prabowo baru saja meluncurkan jurus ini,” kata dia.

Previous articleBisnis Start Up Diharapkan Dapat Unggul Dalam Revolusi Industri 4.0.
Next articleKemenperin Komitmen Making Indonesia 4.0 Jadi Agenda Nasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here