
Jakarta, PONTAS.ID – Ladang minyak milik Saudi Aramco di Arab Saudi mendapat serangan dari pesawat tak berawak pada Sabtu (14/9/2019) lalu. Pemberontak Houthi Yaman mengaku jadi dalang di balik serangan yang melibatkan 10 unit pesawat tanpa awak atau drone tersebut.
Sebagaimana diwartakan CNBC International, harga minyak diprediksi akan naik US$10 per barel akibat serangan pesawat tak berawak tersebut. Ini akan memaksa kerjaan Arab Saudi memotong setengah produksi minyaknya.
“Ini masalah besar,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, Minggu (15/9/2019).
Tak hanya itu, serangan ini bakal menyebabkan hilangnya 5,7 juta barel produksi minyak mentah per hari atau 50% dari total produksi negara kerjaan itu.
Senada dengan Lipow, para analis memperkirakan peristiwa itu akan mendongkrak harga minyak mentah dunia ketika pasar dibuka Senin ini (16/09).
“Abqaiq mungkin merupakan fasilitas paling penting di dunia bagi stok minyak. Harga minyak akan meningkat pesat karena serangan ini,” jelas Ason Bordoff, direktur pendiri lCenter on Global Energy Policy, Columbia University, New York, seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Diketahui, harga minyak mentah pekan lalu diperdagangkan pada kisaran US$54 hingga US$60 per barel.
Arab Saudi tidak membeberkan rincian serangan dan hanya mengatakan peristiwa itu tidak sampai menimbulkan korban, tetapi memberikan informasi lebih banyak sehubungan dengan produksi minyaknya.
Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan penurunan produksi minyak akan ditambal dengan stok minyak yang ada.
Para ahli mengatakan, stok itu dapat digunakan selama berminggu-minggu, dan mungkin ketika itu pula produksi minyak Arab Saudi sudah kembali normal.
Penulis: Ririe
Editor: Stevanny



























