Jakarta, PONTAS.ID – Salah satu ritel moderen yakni supermarket Giant bernaung dibawah PT Hero Supermarket Tbk dikabarkan siap menutup enam tokonya pada Juli mendatang.
Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Febrio Kacaribu menilai penutupan beberapa gerai Giant ini adalah efek dari pola pergeseran transaksi dari konvensional ke online.
“Memang terjadi pergeseran pola transaksi. Yang belanja ini produk consumer good dan itu memang sangat nyaman dilakukan melalui telpon seluler dan dilakukan melalui komputer,” kata Febrio di Jakarta, Selasa (25/6/2019).
Penutupan beberapa gerai retail, menurut Febrio, bukan menunjukkan penurunan daya beli. Justru daya beli masyarakat meningkat sampai lima persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Setiap tahun daya beli kita naik, kita lebih banyak sebesar lima persen secara riil,” ujarnya.
Febrio mengungkapkan, dalam beberapa tahun belakangan terakhir ini dia melihat justru secara perlahan-lahan itu kecepatannya meningkat dalam hal daya beli. “Kecepatannya meningkat, tahun ini misalnya untuk konsumsi itu kita bisa melihat di sekitar 5,02-5,05 persen pertumbuhannya,” kata dia.
Lebih jauh Febrio menyebutkan saat ini daya beli masyarakat tumbuh sebesar lima persen secara riil. “Jadi kalau tadinya saya beli 100 mangkok bakso tahun lalu dan tahun ini seratus lima. Itu setiap tahun bertambah ya nantinya. Jadi daya beli enggak pernah turun,” ujarnya sambil mencontohkan.
Oleh karena itu Febrio membantah jika penutupan beberapa retail dihubungkan dengan penurunan daya beli. “Karena peningkatan persentase itu juga menunjukkan permintaan mulai naik,” tuturnya.
Terkait kasus supermarket Giant itu pula, menurut Febrio, retail saat ini harus terus memikirkan efisiensi tempat untuk menawarkan produknya. Dia mengatakan, kemungkinan kebutuhan retail saat ini adalah gudang dan transportasi. “Kita lihat arahnya tadi kan pergudangan dan transportasi itu tumbuhnya double digit terus,” kata dia.
Persaingan Ketat
Disisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, persaingan usaha sektor ritel sangat ketat. Belum lagi ditambah perilaku berbelanja masyarakat yang berubah.
“Itu kembali lagi ya, persaingan di ritel sangat ketat. Di samping itu perilaku pembeli sudah berubah, memang tidak bisa dipungkiri bahwa belanja e-commerce ada pengaruhnya. Semakin lama trennya semakin banyak,” kata Hariyadi di Jakarta.
Selain itu, kata Hariyadi, salah satu penyebab Hero banyak menutup tokonya pun karena perubahan pola bisnisnya. Adapun, perubahan tersebut demi mengejar efisiensi. Di mana, salah satu efisiensi adalah mengalihkan fisik ke online.
“Bisa saja kemungkinan itu. Karena kan orang pada akhirnya mencari efisiensi. Dan itu semua terjadi karena nggak bisa bertahan dalam persaingan, intinya itu,” ujar dia.
Tidak hanya itu, dunia usaha sekarang ini tengah dihadapkan oleh fenomena daya beli masyarakat.
“Yang perlu kita lihat adalah dari daya beli masyarakat, ada pengaruhnya di sana. Jadi ini semua mengakibatkan beberapa ritel itu nggak bisa bertahan,” kata dia.
Persaingan Bisnis
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant disebabkan persaingan bisnis, yang makin ketat.
“Itu hasil dari persaingan, kalau ada yang kalah dalam bersaing, itu normal,” ucap Darmin saat ditemui di Jakarta.
Saat ini sebut dia, persaingan bisnis ritel modern sangat ketat. Pelaku industri berlomba-lomba untuk menawarkan layanan terbaik kepada konsumen.
“Jangan dirisaukan, karena yang sana ada yang naik, sini ada yang turun,” katanya.
Transformasi Bisnis
Terpisah, Direktur PT Hero Supermarket Tbk, Hadrianus Wahyu Trikusumo mengatakan saat ini perusahaannya sedang melakukan transformasi bisnis dan berdampak pada beberapa toko Giant yang ditutup.
Menurut Hendrianus penutupan itu sudah dikomunikasikan kepada rekan kerja atau pegawai di toko.
“Hal ini bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan guna merespon perilaku konsumen yang berubah dengan cepat,” kata Hadrianus di Jakarta.
Hardianus mengatakan perusahaan ritel makanan di Indonesia telah mengalami peningkatan persaingan dalam beberapa tahun terakhir. Di mana, kata dia, telah terjadi perubahan pola belanja konsumen.
“Dan kami telah mengambil tindakan untuk mengatur kembali dan re-energize Giant untuk memastikan dapat memenuhi preferensi pelanggan yang terus berkembang,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Giant akan menutup 6 gerainya yang ada di Jakarta, Bogor, dan Depok pada 28 Juli 2019.
Keenam gerai tersebut, yakni Giant Ekspres Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur, Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Ekstra Wisma Asri.
Penulis: Luki Herdian
Editor: Risman Septian



























