Jakarta, PONTAS.ID – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa mengaku optimis bahwa partainya akan lolos parliamentary threshold dalam Pemilu 2019 nanti.
Hal tersebut disampaikan Suharso, pasca ditunjuk menjadi Plt Ketum DPP PPP menggantikan Muhammad Romahurmuziy (Romy), yang diberhentikan lantaran telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan suap seleksi jabatan pimpinan di Kementerian Agama (Kemenag).
“Apakah kami dapat membuktikan bahwa partai ini akan eksis dan tetap hadir, lolos dari parliamentary threshold, kami punya keyakinan, karena kami punya kemampuan. Kami punya sejarah yang panjang, kami punya kader-kader terbaik, kami punya generasi penerus dari partai ini saya kira itu awalan dari saya,” kata Suharso di Kantor DPP PPP, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019).
Suharso menegaskan, bahwa PPP tidak ingin berlarut-larut terkait kasus korupsi yang melibatkan Romy. Dia mengajak seluruh kader partai untuk tidak terus bersedih. Sebagai partai yang sudah berdiri sejak 1973, Suharso yakin kalau peristiwa tersebut justru akan lebih menguatkan partai berlambang ka’bah menjelang Pemilu 2019.
“Kami tentu tidak hanya berhenti berkutat dengan sebuah kesedihan, kami harus mengubah musibah ini menjadi sebuah opportunity, sebuah kesempatan. Yang harus kita lihat adalah solusi kedepannya, saya hadir di sini adalah bagian dari solusi untuk Partai Persatuan Pembangunan,” ujarnya.
Suharso menambahkan, dia akan melanjutkan strategi yang telah dijalankan, untuk bisa lolos ambang batas parlemen. Misalnya, akan masuk ke dalam ceruk-ceruk pemilih baru sebesar 30 persen. Kemudian ceruk-ceruk lama basis PPP juga tetap dipertahankan oleh kader-kader terbaik.
“Sehingga kader terbaik kami akan tetap terpilih dari hasil survei kami internal, setidaknya 51 dapil bisa kami menangkan. Mudah-mudahan itu terjadi,” tutur dia.
Terkait dengan kasus dugaan suap yang menimpa Romy, Suharso mengaku turut prihatin. Namun demikian, dia berpendapat itu adalah konsekuensi yang harus diterima oleh Romy atas perbuatan yang telah dilakukannya.
“Semoga Romahurmuziy tabah menghadapi cobaan ini dan itulah konsekuansi dari seorang pemimpin politik. Tentu kami semua sedih dan tidak mengharapkan (hal ini) menjelang pemilu,” tukasnya.
Editor: Risman Septian




























