Jakarta, PONTAS.ID – Badan Usaha Logistik (Bulog) Divisi Regional Kalimantan Selatan kembali gagal memenuhi target serapan beras petani sebesar 22.000 ton. Tingginya harga beras di tingkat petani menjadi penyebab para petani lebih memilih menjual hasil panennya langsung ke pedagang beras.
Humas Bulog Divisi Regional Kalsel Mukhlis mengatakan hingga saat ini total sarapan beras oleh Bulog baru mencapai 55% dari target. “Target serapan beras bulog tahun ini adalah 22 ribu ton dan baru terealisasi 11.771 ton atau sekitar 55%,” tuturnya, Senin (26/11/2018).
Target serapan ini sebenarnya sudah diturunkan dari target tahun sebelumnya, yaitu sebesar 35 ribu ton. Menurut data Bulog, ada tiga area operasi Bulog di Kalsel meliputi Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kotabaru.
Di Banjarmasin, target serapannya 6.393 ton namun baru terserap 3.259 ton atau 52%, kemudian di Hulu Sungai Tengah dari target 13.882 ton hanya terserap 7.988 ton atau 60% dan Kotabaru dengan target 1.725 ton baru terserap 523 ton atau 31%. Masih rendahnya serapan beras Bulog ini salah satunya disebabkan panen Raya yang sudah berakhir serta tingginya harga beras di tingkat petani.
“Tingginya harga beras di lapangan dibanding harga beras pembelian pemerintah (HPP) membuat petani lebih memilih menjualnya langsung ke pedagang beras,” ujarnya.
Dalam Inpres No 5/2015 disebutkan harga pembelian pemerintah untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp3.700 per kg, harga GKP di penggilingan Rp3.750 per kg, dan harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp4.600 per kg, GKG di gudang Bulog Rp4.650 per kg, dan HPP beras di Gudang Bulog Rp7.300 per kg. Untuk di Kalsel HPP beras medium ditetapkan Rp8.030 sedangkan harga pasaran Rp8.750 perkilogramnya.
Disamping beras, Bulog juga sejak 2017 mulai membuka keran penyerapan hasil panen petani jagung di Kalsel. Kebijakan penyerapan komoditas jagung ini merupakan bagian dari dukungan terhadap target swasembada jagung yang ditetapkan pemerintah 2017 lalu. Namun Bulog Kalsel belum menargetkan serapan jagung petani, dikarenakan produksi jagung Kalsel tergolong kecil dan para kelompok tani selama ini telah memiliki jaringan pemasaran ke pabrik pakan ternak di Kabupaten Tanah Laut.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalsel Faturahman mengatakan produksi jagung Kalsel per tahunnya sebesar 128.000 ton, sedangkan kebutuhan jagung mencapai 200.000 ton. “Kebutuhan jagung Kalsel sebagian didatangkan dari Pulau Jawa. Saat ini pemerintah menargetkan penambahan luas tanam jagung guna mendukung target swasembada jagung,” ujarnya.
Luas tanam jagung di Kalsel baru seluas 27.000 hektar dan Kabupaten Tanah Laut merupakan sentra jagung di wilayah tersebut. Pemerintah menargetkan luas tanam jagung seluas 85.000 hektar di Kalsel dari target tanam 3 juta hektar seluruh Indonesia. Sebelumnya, sudah ada komitmen tanam jagung yang melibatkan organisasi Gerakan Pemuda Tani Indonesia seluas 17.000 hektar di Kabupaten Tanah Laut.
Editor: Idul HM




























