Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) diimbau untuk tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dapat menimbulkan polemik terkait dengan ketersediaan dan kebutuhan pangan, termasuk soal kebijakan impor 100 ribu ton jagung yang disepakati melalui rapat koordinasi terbatas (rakortas), yang juga diajukan Kementan sendiri.
“Belajar dari kasus beras, sebaiknya tak perlu gembar-gembor surplus karena sistem pendataan dengan metode konvensional itu berpotensi meng-hadapi gangguan integritas data,” ujar Komisioner Ombudsman RI, Alamsyah Saragih, saat dihubungi, kemarin.
Menurut dia, akan lebih baik jika Kementan fokus pada upaya menggenjot produksi dan penanganan pascapanen. Jangan terburu-buru menduga ada permainan. Akan semakin membingungkan nanti.
“Untuk sementara, sudahlah, jangan terlalu banyak komentar. Lebih baik fokus untuk memperhatikan kebutuhan (jagung) peternak. Juga fokus sosialisasikan dengan baik bahwa impor untuk meningkatkan cadangan, bukan untuk mengganggu petani,” tegas Alamsyah.
Menurut Alamsyah, impor jagung dibutuhkan karena kondisi di lapangan memang kurang pasokan. Walaupun berulang kali Kementan menyatakan bahwa saat ini surplus produksi jagung, kenyataan harga di lapangan tinggi dan para peternak sulit mendapatkan komoditas itu untuk kebutuhan pakan ternak.
“Meski banyak penolakan, walaupun dibilang surplus, tidak ada gunanya kalau barangnya tidak ada,” ujarnya.
Surplus Jagung Ala Kementan Tak Masuk Akal
Sebelumnya, Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menyorot pernyataan Kementerian Pertanian (Kementan) yang menyebut jagung diperkirakan surplus mencapai 12,9 juta ton pipilan kering (PK) pada periode 2018.
Angka surplus tersebut dianggap Pataka tidak masuk akal. Menurut Pataka, jika memang surplus jagung mencapai 12,9 juta ton maka diperlukan benih jagung minimal 106.000 ton. Hal itu dengan mempertimbangkan luas panen 5,3 juta hektare.
“Maka dengan asumsi 1 hektar memerlukan benih jagung rata rata sebesar 20 kg, di 2018 ini diperlukan benih jagung sebanyak 106.000 ton benih,” kata Direktur Eksekutif Pataka Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11).
Editor: Idul HM



























