Jakarta, PONTAS.ID — Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia (APUDSI) angkat suara terkait meningkatnya ketegangan geopolitik global yang melibatkan Venezuela dan Amerika Serikat. Ketua Umum APUDSI, Maulidan Isbar, menegaskan bahwa eskalasi ini berpotensi memberi dampak nyata terhadap perekonomian Indonesia, khususnya sektor usaha desa yang selama ini menjadi fondasi ekonomi nasional.
Maulidan menyatakan, konflik geopolitik tersebut tidak dapat dilihat semata sebagai isu politik luar negeri. Menurutnya, Venezuela memiliki posisi strategis dalam peta energi global, sehingga setiap gejolak yang melibatkan negara tersebut berisiko memicu volatilitas harga minyak dunia, biaya logistik, serta rantai pasok internasional.
“Dampak dari ketidakstabilan energi global tidak berhenti di level makro. Ujungnya akan dirasakan langsung oleh pelaku usaha desa—dari ongkos angkut, harga bahan baku, hingga daya beli masyarakat,” ujar Maulidan kepada PONTAS.id, Minggu (4/1/2025).
APUDSI mencatat bahwa perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Pasar energi dinilai sangat sensitif terhadap risiko geopolitik, meskipun terdapat potensi pasokan yang relatif memadai. Dalam konteks ini, Venezuela kerap disebut sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, namun belum mampu berkontribusi optimal akibat keterbatasan investasi dan persoalan tata kelola.
Bagi Indonesia, situasi tersebut memiliki implikasi langsung. Struktur biaya logistik nasional masih sangat dipengaruhi oleh harga energi global. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan biaya distribusi dan mempersempit margin usaha, terutama bagi pelaku ekonomi desa yang beroperasi dengan skala kecil hingga menengah.
Di tengah situasi tersebut, Maulidan juga mengingatkan maraknya arus informasi yang tidak sepenuhnya terverifikasi terkait konflik global. Ia menilai, reaksi yang emosional dan keputusan yang tidak berbasis data justru berisiko memperburuk dampak ekonomi di tingkat lokal.
“APUDSI mengimbau pelaku usaha desa, investor, dan pemangku kebijakan agar tidak gegabah. Ketegasan diperlukan, tetapi harus lahir dari pembacaan data yang jernih, bukan dari narasi yang menyesatkan,” tegasnya.
Menurut APUDSI, arah dampak ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana dunia merespons situasi ini. Jika ketegangan mereda, gejolak harga energi diperkirakan bersifat sementara. Namun jika ketidakpastian berkepanjangan, tekanan terhadap biaya logistik dan harga barang dinilai akan semakin terasa di desa-desa.
Menutup pernyataannya, Maulidan Isbar menegaskan komitmen APUDSI untuk terus menjalankan fungsi penerangan ekonomi dan memberikan pembacaan global yang bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa ketahanan ekonomi nasional bertumpu pada ketahanan ekonomi desa.
“Pelaku usaha desa Indonesia mampu bersikap rasional, dewasa secara ekonomi, dan bermartabat secara kemanusiaan. APUDSI akan terus berdiri bersama mereka dalam menjaga keberlanjutan ekonomi lokal sebagai fondasi ketahanan nasional,” pungkas Maulidan.
Penulis: Rahmat Mauliady
Editor: Fajar Virgiawan Cahya


















