INDRAMAYU, PONTAS.ID – Bank Perkreditan Rakyat Karya Remaja (BPR KR) Indramayu menuai sorotan publik. Pasalnya, salah satu korban Sariratul jannah, calon jamaah haji merasa dirugikan lantaran hampir gagal bayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH).
Dirinya menceritakan asal muasal ketertarikanya menginvestasikan uang ongkos Hajinya ke BPR, menurut Sariratul ia menginvestasikan uangnya itu dikarenakan diiming-imingi bunga yang tinggi serta potongan yang rendah sehingga membuatnya tergiur.
“Saya awal tertarik menginvestasikan uang ke BPR karena diimingi bunga yang lumayan dan nanti pencairanya tidak ribet serta dimudahkan,” ucapnya saat memberikan penjelasan di Islamic center indramayu pada hari rabu (17/05/2023)
Sariratul menambahkan bahwa BPR ini adalah Bank Daerah yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, (OJK) membuatnya merasa yakin untuk mendepositkan uangnya di BPR.
Oleh sebab dua hal tersebut dirinya yakin dan percaya menitipkan Uang ongkos Hajinya ke BPR, tetapi dirinya kini mengalami kerugian akibat uang depositnya tidak dibayarkan secara full, sampai tiba waktu pelunasan di kemenag uangnya tidak juga bisa cair, beberapa upaya telah dia lakukan dari komunikasi, demontrasi juga bermusyawarah dengan anggota dewan perwakilan rakyat daerah. tapi hasilnya Nihil.
Informasi yang diterima, sulitnya cair deposito dan tabungan lantaran Kasus Kredit macet yang menimpa BPR KR Indramayu sehingga mempengaruhi beberapa calon jamaah haji yang menabung uang di sana.
Dan Sariratul mengatakan bahwasanya akibat ulah BPR dirinya harus menanggung hutang demi melunasi adminstrasi ongkos hajinya.
“Dari pada ga berangkat, demi moment yang ditunggu sudah lama, masa saya harus merelakan moment ini diberikan kepada orang lain, jadi terpaksa saya mencari pinjaman demi pelunasan tersebut” imbuhnya
Sariratul berharap kepada pemerintah daerah, untuk mempercepat proses pengembalian uang para Nasabah yang macet di BPR tersebut.
“Saya hanya masyarakat apapun kendala dan kerumitannya suatu perusahaan Daerah masih dalam pengawasan pemimpin Daerahnya. Bukan masyrakat dibiarkan menjadi korban, tolonglah Bupati,” rintihnya dengan mata berkaca-kaca sambil menahan sedih.
Penulis: Cartono
Editor: Rahmat Mauliady
















