Salip 32 Negara, Desa Wisata Nglanggeran Raih Best Tourism Village

Jakarta, PONTAS.ID – Desa Wisata Nglanggeran, berhasil meraih Best Tourism Village 2021. Destinasi wisata yang berada di Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini meraih penghargaan dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Penghargaan ini dianugerahkan dalam rangkaian program “Thematic Session” pada Sidang Umum UNWTO ke-24 di Madrid, Spanyol, Kamis (02/12/2021) waktu setempat.

“Desa Nglanggeran bersaing dengan 44 desa wisata lainnya dari 32 negara di dunia,” ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf /Baparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, dalam keterangannya, Senin (6/12/2021).

Sandiaga menegaskan, penghargaan yang diraih menunjukkan Desa Wisata Nglanggeran merupakan salah satu destinasi kelas dunia.

“Ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan dalam rangka memaksimalkan kontribusi desa wisata, lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan di pedesaan,” kata Sandiaga.

Momentum Kebangkitan
Sandiaga juga mengungkapkan, penghargaan terhadap Desa Wisata Nglanggeran diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi Indonesia khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Terlebih, sebelumnya Desa Wisata Nglanggeran telah ditetapkan Menparekraf sebagai desa wisata mandiri inspiratif.

“Prestasi ini jadi angin segar di tengah hiruk-pikuk pandemi dan tantangan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja hampir dua tahun belakangan,” ujarnya.

Selain itu, gelar ini menambah panjang daftar penghargaan yang telah diterima Desa Wisata Nglanggeran. Sebelumnya, pada 2017, desa ini dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik ASEAN tahun 2017.

Sembilan Kriteria
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu, mengatakan, ada sembilan kriteria penilaian dalam penentuan 44 desa wisata ini sebagai UNWTO Best Tourism Village, yaitu:

  1. Sumber daya alam dan budaya;
  2. Promosi dan konservasi sumber daya budaya;
  3. Keberlanjutan ekonomi;
  4. Keberlanjutan sosial;
  5. Keberlanjutan lingkungan;
  6. Potensi dan pengembangan pariwisata serta integrasi rantai nilai;
  7. Tata kelola dan prioritas pariwisata;
  8. Infrastruktur dan konektivitas; serta
  9. Kesehatan, keselamatan dan keamanan.

Selain berbagai penghargaan yang telah diraih di tingkat lokal, nasional, dan internasional, proses penilaian dan perolehan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kemenparekraf tahun lalu dikatakannya turut mendorong Desa Wisata Nglanggeran mampu memenuhi area evaluasi UNWTO.

“Pengelolaan berkelanjutan melalui peran aktif dan inovasi yang dilakukan pengelola, keberlanjutan sosial ekonomi yang ditunjukkan melalui rantai nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat, keberlanjutan budaya, serta lingkungan melalui upaya pengelolaan dan konservasi aset alam dan budaya,” ujar Vinsensius.

Pemberdayaan Desa
Sementara Sekretaris Jenderal (Sekjen) UNWTO, Zurab Pololikashvili, mengatakan, inisiatif atau penghargaan ini adalah bentuk pengakuan terhadap desa-desa yang berkomitmen untuk menjadikan pariwsata sebagai pendorong yang kuat bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pariwisata dapat menjadi pendorong kohesi sosial dan inclusivity dengan mempromosikan distribusi manfaat yang lebih adil di seluruh wilayah sekaligus memberdayakan masyarakat lokal,” kata Zurab.

Selain 44 Desa Wisata yang terpilih pada kategori UNWTO Best Tourism Villages Label, terdapat 20 desa wisata lainnya yang akan mengikuti program pada kategori UNWTO Best Tourism Villages Upgrade Programme. Seluruh 64 Desa Wisata ini pun masuk menjadi bagian dari UNWTO Best Tourism Villages Network.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Ahmad Rahmansyah

Previous articleFraksi DPR Ingin Revisi UU Ciptaker Fokus di Putusan MK
Next articleCegah Penyebaran Covid-19, Koramil 02/Limpung Sambangi Pusat Perbelanjaan