Sergai, PONTAS.ID – Kelangkaan BBM jenis solar terjadi di daerah Provinsi Sumatera Utara yang berimbas kepada beberapa alat transportasi khususnya dikalangan nelayan sepanjang pesisir pantai Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Menurut informasi yang dihimpun PONTAS.ID, Panjang pesisir pantai di wilayah Sergai tercatat 95 KM, mulai dari Pantai Cermin, Sialang Buah, Bedagai (Tanjung Beringin) dan Bandar Khalifa sebagai pusat pemilik sampan/kapal penangkap ikan paling banyak di Sergai.
Menurut penuturan salah satu warga Pantai Cermin, Abdul (38) mengatakan para nelayan tradisional di Pantai Cermin kebanyakan memakai sampan kecil dan bermesin diesel berkekuatan 10 -12 PK saja, dan tentunya irit bahan bakar apalagi hanya pergi pagi pulang sore.
“Kadang kita cuma perlu sekitar 20-25 liter saja, tapi membelinya sangat sulit ditempat pangkalan minyak. Kalau di SPBU atau galon solar bersubsidi cuma Rp 5.150/liter, tapi sekarang diecer sama kami bisa mencapai Rp 7,500/liter,” katanya dengan logat Melayu pesisir.
Pengusaha Ikan dan pemilik sampan besar dari Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu, Syafaruddin yang akrab disapa Udin Sirip di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sialang buah saat ditemui mengatakan bahwa hal ini yang membuat risau para nelayan.
“Mau kelaut minyak tak ada, hutang makin menumpuk di kedai atau warung,” papar Udin Sirip mantan Anggota DPRD Sergai, dan Ketua Dewan Syuro DPC PKB Sergai.
Fenomena ini, lanjut Pengusaha Ikan ini tentunya tak boleh dibiarkan berlarut larut. Jika harga solar naik atau adanya permainan oleh oknum-oknum untuk keuntungan pribadi, maka akan berdampak juga pada harga ikan.
“Jelas, nelayan banyak yang menganggur dan biaya untuk hidup keluarganya juga harus ada. Ini yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah,bagaimana solusinya jika BBM jenis Solar tidak ada,” tutup Udin.
Joni Saragih (54) pemilik jambur atau pengusaha ikan di TPI Bedagai, ketika di temui membenarkan apa yang dikatakan Udin. Di Bedagai ini, Kata Joni terdapat lebih dari seribu sampan, mulai dari ukuran yang kecil hingga yang besar.
“Kalau tak ada Solar maka berapa ribu orang yang menganggur di darat. Karena kebiasaan di laut mencari nafkah, sulit nelayan ini untuk merubah pola hidupnya kalau di darat dan inilah fenomena hidup di laut,” jelas Joni Saragih yang sudah puluhan tahun hidup di laut.
Ucok Salut (38) warga Bedagai, mengungkapkan selama ini tugasnya membeli minyak diluar Bedagai, sebab galon minyak atau SPBN di Tanjung Beringin tak cukup memenuhi kebutuhan minyak untuk nelayan di Bedagai.
“Kalau kemarin, dengan mengantongi surat keterangan dari Desa/Kecamatan Kuta bisa membeli Solar dari SPBU di luar Bedagai. Tapi karena minyak solar langka, sementara Nelayan butuh minyak maka saya membelinya dari sopir truk yang isi tangkinya ada, jelas harganya jauh lebih tinggi,” ungkapnya.
Penulis : Andy Ebiet
Editor : Fajar Virgyawan Cahya




























