Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengajak para ahli Teknik Tanah dan Geoteknik untuk berkontribusi dalam memecahkan permasalahan desain dan supervisi yang handal dalam mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia.
hal ini disampaikan saat penyelenggaraan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXIV Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) yang digelar secara Virtual.
“Saya ingin agar para ahli teknik tanah dan geoteknik yang tergabung dalam Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) dapat terus meningkatkan kontribusinya dalam perencanaan, utamanya terkait fondasi untuk menjamin ketahanan infrastruktur,”
ujar Basuki melalui keterangan resminya yang dikutip PONTAS.id, Rabu (11/11/2020)
Dalam pertemuan daring itu, pihaknya membahas tentang tingkat kehati-hatian sebagai perencana fondasi dan analisa geoteknik yang terkait lainnya seperti longsoran, likuifaksi, subsidence, gerakan air tanah dan lain sebagainya.
Lebih lanjut dikatakanya, Ketersediaan data tanah dan batuan
yang memadai menjadi kunci dan mutlak sangat diperlukan untuk fondasi berbagai bangunan infrastruktur.
“Data tanah bawah permukaan yang kurang memadai akan berakibat mundurnya waktu dan penambahan biaya pelaksanaan konstruksi sehingga menjadi tidak efisien,” imbuhnya
Dua faktor tersebut dikatakan Menteri Basuki menjadi penyebab utama dan dapat berakibat buruk di masa operasionalnya nanti. Untuk itu, sebagai upaya mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan konstruksi, Kementerian PUPR telah membentuk Komite Keselamatan Konstruksi (Komite K2).
Peran para ahli geologi dalam pembangunan infrastruktur bukan hanya sebagai pendukung namun sangat menentukan keselamatan dalam pembangunan infrastruktur dan memberikan panduan.
“Dalam siklus konstruksi, peran ahli geologi banyak terlibat dalam tahap survey dan investigasi, desain, perencanaan dan tahap pembangunan infrastruktur,” tuturnya
Sementara itu, berdasarkan pengalaman terjadinya likuifaksi di Palu, Basuki memandang bahwa perkuatan fondasi infrastruktur pada daerah yang berpotensi likuifaksi sangat diperlukan.
“Pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas nasional banyak menemui tantangan kondisi alam yang membutuhkan kontribusi keilmuan para ahli geologi. Terlebih Indonesia juga terletak dalam area Ring of Fire (lingkaran api) dan negara dengan curah hujan yang relatif tinggi,” pungkasnya.
Penulis: Rahmat Mauliady
Editor: Pahala Simanjuntak




























