Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenparekraf, Robinson Sinaga, mengatakan bahwa pihaknya mendorong pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) bagi produk-produk pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk kopi sebagai upaya untuk memperkuat pengembangan pariwisata di suatu wilayah.
“Bengkulu memiliki dua kopi indikasi geografis, yaitu Kepahiang dan Rejang Lebong. Produk-produk indikasi geografis ini perlu didaftarkan dan dikomersialisasikan oleh masing-masing daerah asalnya. Namun di banyak daerah, anak muda tidak mengerti bagaimana mengolah kopi dengan baik dan benar. Untuk itu kami mendorong peran anak muda untuk mengembangkan kekayaan intelektual khususnya berbasi kopi sehingga bisa memberi nilai tambah,” kata Robinson, dalam siaran persnya, Sabtu (7/11/2020).
Kopi, lanjut Robinson, tergolong ke dalam salah satu bagian dari subsektor ekonomi kreatif yang didukung oleh Kemenparekraf/Baparekraf, yakni subsektor kuliner. Robinson juga menuturkan bahwa setiap kopi yang dihasilkan di berbagai wilayah di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda baik dari segi rasa maupun aroma.
Sehingga, perlu ada pemahaman bagi para pelaku wisata yang memiliki usaha kedai kopi maupun produsen kopi untuk memahami HKI, terutama indikasi geografis dari produknya.
“Jadi (produsen dan pengusaha kedai kopi) tak hanya harus paham memproduksi kopi, tapi mereka juga perlu paham HKI terutama indikasi geografis produknya supaya mereka bangga akan hasil produksinya dan menjadikan produknya suatu ciri khas dari Bengkulu dan sekitarnya,” terangnya.
Sementara, Anggota DPR Komisi X, Dewi Coryati, berharap para pelaku dan pengusaha Kopi memiliki improvisasi baik dalam pembuatan dan penyajiannya. Kesempatan yang sangat baik ini jangan sampai disia-siakan dan harus dimaksimalkan untuk belajar.
“Kegiatan ini diharapkan ada rencana tindak lanjut, misalnya mendirikan kedai kopi, fokus pada proses roasting kopi atau yang lainnya, bagaimana memberikan nilai tambah pada kopi indikasi geografis Bengkulu sendiri,” tandasnya.
Penulis: Riana
Editor: Luki Herdian



























