Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengungkapkan bahwa jumlah cadangan minyak Indonesia tersisa 3,77 miliar barel atau 0,2 persen dari cadangan dunia, cadangan gas bumi masih lebih baik, yakni 77 triliun kaki kubik atau 1,05 persen dari cadangan dunia, dan batu bara 37,6 miliar ton.
Arifin bilang, dengan asumsi tidak ada penemuan energi fosil yang baru maka minyak bumi akan habis dalam waktu 9 tahun.
“Gas bumi akan habis dalam waktu 22 tahun, sedangkan batu bara habis 65 tahun. Lalu cadangan minyak bumi 3,77 miliar barel dengan asumsi tidak ada cadangan baru maka minyak bumi akan habis sembilan tahun,” ungkap Arifin, dalam acara Tempo Energy Day, Rabu (21/10/2020).
Arifin membeberkan, penurunan cadangan minyak juga disebabkan oleh produksi minyak dalam negeri yang terus turun dan berada pada kisaran 700-an ribu barel per hari lantaran usia lapangan produksi minyak yang telah uzur.
Padahal, kata Arifin, sumber daya minyak di Indonesia terbilang masih cukup besar. Hanya saja belum sepenuhnya bisa dikonversi menjadi cadangan. Hal ini tercermin dari 74 cekungan minyak yang belum tersentuh sama sekali.
“Sumber daya energi minyak dan gas bumi memang masih terbilang cukup banyak tetapi sumber energi tersebut belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi cadangan,” imbuhnya.
Arifin menuturkan, selain harus dieksplorasi menjadi cadangan terbukti, RI juga harus melakukan transisi energi dari fosil ke energi terbarukan agar ketahanan energi masa depan terjaga.
“Kita sebenarnya masih memiliki banyak sumber daya energi yang belum dieksplorasi. Ini tantangan kita untuk melakukan eksplorasi yang masih belum diketahui sehingga kita bisa mendeteksi resource baru untuk memenuhi kebutuhan energi kita dalam jangka panjang,” tandasnya.
Arifin melanjutkan, Kementerian ESDM mencatat potensi energi dari EBT mencapai lebih dari 400 gigawatt. Sedangkan dari total potensi yang ada, jumlah EBT yang dimanfaatkan baru 2,5 persen atau 10 gigawatt. Menurutnya, potensi tersebut bisa bertambah karena saat ini banyak sumber energi yang belum ditindaklanjuti atau dieksplorasi secara masif.
Ia pun meyakini, optimalisasi EBT akan memberikan efek yang lebih besar baik bagi lingkungan hidup maupun ekonomi. Pemanfaatan EBT saat ini juga merupakan momentum tepat lantaran pandemi Covid-19 telah memberikan efek domino bagi kehidupan sosial, perekonomian, hingga energi.
“Respons pandemi harus kita lakukan agar bisa lebih tangguh. Terciptanya energi baru terbarukan ini sekaligus mengurangi efek gas rumah kaca dan menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.
Penulis: Riana
Editor: Stevanny




























