Begini Strategi Pemerintah Melistriki 433 Desa

Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM terus mengupayakan ketersediaan akses listrik yang merata hingga pelosok desa, termasuk dengan melistriki 433 desa belum berlistrik. Adapun, desa-desa tersebut tersebar di wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara dengan indikasi pelanggan berjumlah 49.755 rumah tangga.

Dirjen Ketenagalistrikan ESDM, Rida Mulyana, menyampaikan strategi melistriki 433 desa tersebut dalam webinar virtual oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), Rabu (19/8/2020).

Rida menuturkan, pemerintah mengutamakan pemanfaatan energi setempat di daerah tersebut dengan beberapa pilihan strategi. Pertama, perluasan jaringan di 52 desa. Kedua, melalui pembangkit energi baru terbarukan (EBT), pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) komunal, dan jaringan di 75 desa. Ketiga, melalui pembangkit EBT dan tabung listrik (talis) di 306 desa.

“Tadinya momen HUT ke-75 RI kita pakai untuk mendeklarasikan 100% Rasio Elektrifikasi (RE). Tapi karena kondisi pandemi Covid-19, sedikit banyak hal ini membatasi gerak langkah kita untuk mencapai RE 100% pada 2020. Kita terpaksa geser ke tahun depan juga di dalamnya termasuk melistriki 433 desa. Intinya semua rumah harus ada listriknya, itu yang jadi komitmen kita untuk dicapai di tahun depan,” ujar Rida.

Lebih lanjut, Rida mengungkapkan, kebutuhan pendanaan untuk melistriki 433 desa ini Rp1.269,2 miliar, termasuk untuk Talis. Rencana mengenai penyediaan dana Talis sebesar Rp525,5 milyar diusulkan untuk dianggarkan dan dilaksanakan oleh Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) pada tahun 2021.

Progres hingga saat ini, perluasan jaringan pada 2 desa dan pembangunan pembangkit EBT komunal dan jaringan pada 82 desa telah berjalan, dengan target menyala Desember 2020.

Senada dengan Rida, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN (Persero), Bob Saril, mengungkapkan bahwa PLN berkomitmen untuk melistriki seluruh wilayah Indonesia. Sampai dengan triwulan II tahun 2020, pencapaian RE sebesar 99,09%.

“Upaya peningkatan RE yang dilakukan oleh PLN telah meningkat dengan pesat sejak tahun 2014 sebesar 84,35% menjadi 99,09% pada triwulan II/2020, meningkat 14,74%,” kata Bob.

Bob melanjutkan, tak hanya memperluas akses listrik, PLN juga fokus untuk meningkatkan kualitas layanan pada pelanggan.

“Kami memfokuskan pada pelanggan dan melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya sehingga tercipta kepuasan pelanggan dan customer experience yang lebih baik lagi,” ujar Bob.

Kemudian, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengatakan, dilihat dari sisi pelayanan, standar pelayanan di listrik merupakan pelopor reformasi standar pelayanan. Tulus menyampaikan PLN mempunyai standar pelayanan minimal dengan kompensasi yang diberikan pada konsumen.

“Saya ikut mengawal sejak 2002. PLN diberikan disinsentif kalau tidak mampu memberikan pelayanan yang disampaikan,” kata Tulus. Ia mengatakan ini adalah sebuah terobosan karena sektor publik lain saat itu belum ada yang memberikan kompensasi seperti itu.

“Kita harus pertahankan dan kalau perlu formulasinya ditingkatkan dan lebih signifikan,” pungkas Tulus.

Penulis: Riana

Editor: Stevanny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here