Kajari Sergai,Paian Tumanggor:Tiada Pendidikan Tanpa Hukuman

Sergai, PONTAS.ID – Ini yang dikatakan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari)  Sergai, Paian Tumanggor dalam acara Bedah Buku “Surat Dari Medan”, yang ditulis oleh Bupati Sergai H. Soekirman dalam buku ke-12 nya, dihadapan Para Guru, Kepala Sekolah SD, SMP dan SMA/sederajat dan Koorwil Disdik Sergai di SD Negeri 104303 Kampung Ibus Desa Sei Rampah kec. Sei Rampah, Senin (25/11/2019) sore.
Paian Tumanggor memberikan apresiasi kepada Soekirman yang selama 16 tahun,  mampu menulis 12 judul buku. “20 – 30 tahun lagi buku ini sangat berguna, apapun surat-surat yang kita kumpulkan dari orangtua,te man atau pacar bisa dikumpulkan dan suatu saat bisa dijadikan buku, terinsipirasi dari buku yang ditulis pak Bupati tentunya”,kata Kajari Sergai ini.
Buku ini jangan di bawa ke Belanda, hal ini diingatkan Paian Tumanggor ketika dirinya masih berdinas di Sulawesi. “Di Sulawesi ada cerita Hikayat yang mampu mengalahkan Kisah Prabu Siliwangi dari Pajajaran, tapi kemudian buku itu hilang dari peredaran. Akhir nya Bupati itu tau kalau kelengkapan sejarah dibuku itu,ada di Belanda. Ketika Pemda meminta copy buku itu,ternyata kompensasi nya harus membayar Triliyunan rupiah”,ucap Kajari Sergai.
Terkait pembelajaran Sastra, Membaca dan Bahasa di sekolah, lanjut Paian agar pelajar/siswa mendapatkan ilmu tentang menulis, membaca serta sastra dalam hal ini semuanya tergantung kepada para Guru agar tegas menerapkan kurikulum tersebut.
“Tiada Pendidikan Tanpa Hukuman”,tegas Kajari Sergai bahwa, jangan takut kalau ada Guru yang dilaporkan Wali Muridnya karena dipukul, ketika dalam jam belajar mengajar.
“Saya ingatkan, jika memang tugas Guru memberikan ilmunya ketika dikelas dan ada murid yang bandel, kalaupun dihukum/dipukul sesuai tingkat kesalahan nya dam tidak berlebihan, saya akan membela Guru tersebut sebab, saya dulu juga sekolah dan pernah dipukul Guru karena kesalahan saya. Tapi, se telah saya dewasa baru menyadari kalau ajaran Guru itu benar, buktinya Anak Siantar ini sekarang tugas di Sergai”,papar Kajari.
Kajari Sergai ini juga “memprotes” judul buku “Surat dari Medan” yang ditulis Soekirman, “Jujur aja, aku dulu jualan ayam dan sayur di Siantar, ayam dan sayurnya dari Perbaungan. Jadi Perbaungan, Pakam apalagi Firdaus ini, dulu lintasan saya nya. Jantan kalian pikir aku orang baru,pak Soekirman itu Abang Jampang,( Jagoan dari Simpang Perbaungan), aku ini anak Siantar (Siantar Men) kenapa tak dibuat judulnya Surat Dari Sergai atau Perbaungan. Tapi maklum awak, kalo di Jawa atau Sulawesi, kita yang dari Tarutung atau Balige saja diluar sono dibilang Anak Medan. Padahal, kampung awaq sama kota Medan seharian naik bis. Tapi intinya, kita harus bangga punya Bupati suka menulis, dan ini kepada para siswa dan oara Guru harus dicontoh”,tutup Kajari Sergai ini.
Hadir dalam bedah buku ini, Bupati HmSoekirman, Wabup Sergai Darma Wijaya, Penyairi H. Hadi Syofyan Ali Umri, Kadis Pendidikan Drs. Joni Walker Manik. MM, Dewan Pendidikan dan undangan serta ratusan warga dan Pendidik.
Penulis: Hartono
Editor: Idul HM
Previous articleSambangi PKS, Pimpinan MPR Serap Aspirasi Amandemen UUD
Next articleKriminalisasi Pekerja, SP-JICT Siapkan Posko di Polres Pelabuhan