Medan, PONTAS.ID – Kebudayaan dan kesenian daerah kini sepertinya harus dihidupkan kembali. Ini telah menjadi trend di daerah-daerah seperti Jogja, Bali, Malang, Semarang dan daerah lainnya di Indonesia.
Hal itu dikatakan Khairul Anwar, penggagas sekaligus Chief Officer dalam temu pers acara bertajuk, “Bohorok Art Festival” di Taman Budaya Sumut, Selasa (16/7/2019).
Bahorok Art Festival Art akan dilaksanakan tiga hari mulai 18 hingga 20 Juli 2019 di Bohorok, tepatnya di Desa Empus Kabupaten Langkat.
“Saya sering malakukan traveling ke daerah-daerah dan melihat bagaimana masyarakat memperlakukan kebudayaan dan keseniannya. Dan saya sangat terkesima, sehingga tergerak hati saya untuk membuat gerakan kebudayaan di kampung saya Bohorok,” ujar Khairul Anwar didampingi tim acara, Tatan Daniel, Syahrial Felani, Erliany Lubis dan Adek Gendang.
Khairul Anwar pengusaha sukses Putra Bohorok ini juga menjelaskan Festival ini murni mengangkat kebudayaan dan kesenian lokal, seperti Lomba tari Serampang Dua Belas, bazar kuliner lokal, karnaval serta mengangkat kembali tarian asli Bohorok “Es Pompong”.
“Jadi yang bukan kesenian lokal hanya Serampang Dua Belas selebihnya, pergelaran kesenian lokal. Untuk Serampang dua belas ini kita lombakan lantaran tari ini milik Sumatera Utara yang pernah menjadi tari nasional. Saya menyediakan total hadiah Rp.35 juta,” terang Khairul lagi.
Sementara itu, sekretaris acara, Erliany Lubis mengatakan, saat ini persiapan sudah matang dan tinggal pelaksanaan termasuk kesiapan para peserta. Peserta semua sudah clear.
“Untuk peserta lomba Serampang Dua Belas peserta berjumlah 35 pasang dengan hadiah, piala, sertifikat dan dan uang pembinaan. Tidak dipungut biaya apapun. Selama di lokasi acara, termasuk konsumsi dan penginapan ditanggung panitia,” jelas Erliany Lubis.
Erliani menambahkan perlombaan akan dinilai oleh empat dewan juri yakni, Khaidir, Yayan, Adek dan Eka Firdaus. “Penilaiannya akan dilakukan mengikuti pakem pakem yang biasa dengan lagu yang sama. Pada babak penyisihan dengan musik cd tetapi pada final musik live,” jelasnya.
Gagasan Anak Muda
Sementara itu, Tatan Daniel seniman asal Sumut yang kini menetap di Jakarta menambahkan, acara ini merupakan gagasan perhelatan budaya yang luar biasa karena digagas oleh anak muda.
“Jadi memang sudah seharusnya, anak muda mulai menggerakkan kebudayaan bersama masyarakat. Kita jangan dulu bicara pemerintah, biarkan mereka dengan birokrasi yang rumit itu,” kata Tatan.
Kebudayaan, saat ini tengah bangkit sebagai satu gerakan yang lahir dari kesadaran masyarakat. Di Jogja, Malang, para anak muda menarikan satu tarian perang di Jalan Malioboro, kata dia mencontohkan.
“Jadi saat ini sudah mulai tumbuh kesadaran baru tentang pertumbuhan kebudayaan. Bohorok itu ternyata banyak sekali potensi daerahnya seperti, burung Murai Batu, Durian dan ternyata ada tarian lokal seperti dikatakan Mak Yal (Syahrial) yakni, Es Pompong,” sambungnya.
Es Pompong adalah sebuah tarian yang mirip dengan Serampang Dua Belas. Ditarikan juga oleh sepasang muda-mudi. Ciri-ciri gerakannya menyerupai Zapin. Memakai alat musik, biola dan kulintang, mirip dengan tari Portugis.
“Kesenian ini belum terekspose. Jadi nanti dalam acara itu akan kita tampilkan. Selama ini kita belum tau kalau ada tarian yang merupakan produk budaya lokal yang juga lahir dari seniman lokal,” ujar Syarial yang mengaku akan melakukan riset lebih jauh tentang tarian ini bersama Adek Gendang.
Motivator Budaya
Panitia juga berharap acara ini bisa viral di media sosial dan diketahui orang di manapun berada. Sebab bom kebudayaan kini sudah mulai bergerak dan tinggal meledaknya.
“Kita berharap kegiatan ini nantinya mampu menjadi motivator sehingga selesai acara, masyarakat di sana terus bergerak meneruskan pengembangan kebudayaan. Sehingga nantinya diharapkan kampung ini dan Bohorok serta kesenian dan terutama Serampang Dua Belas kembali viral,” sela Khairil Anwar.
Seperti diketahui Tatan Daniel merupakan pelopor kembalinya tari Serampang Dua Belas yang diciptakan oleh Sauti di Perbaungan Serdang Bedagai.
“Kami di Jakarta ‘berdarah-darah’ juga mencoba membangkitkan kembali ketenaran tari Serampang Dua Belas di tahun 50 an. Di mana waktu itu tarian ini menjadi tarian kesukaan Bung Karno dan dinobatkan menjadi tari nasional,” jelas Tatan.
Pihaknya juga mengaku pernah menggelar acara Serampang Dua Belas persis pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2012.
“Kami laksanakan dengan penari berjumlah 12 pasang, dimulai dari jam 12 siang sampai jam 12 malam. Ini sukses. Kemudian buntutnya, hampir daerah yang masyarakatnya Melayu mulai bergerak membuat festival tari serampang dua belas,” jelasnya.
Tari Serampang Dua Belas juga kata Tatan Daniel sudah pernah menjadi diplomasi kebudayaan di Eropa Timur. “Jadi salah satu pemain gendangnya adalah Maestro Khairuddin Dahlan. Itu makanya kami usulkan agar mendapat anugerah maestro kebudayaan dan sudah dapat, walau kini sang maestro sudah tiada (meninggal),” ujarnya.
Kemudian setelah Serampang Dua Belas menjadi tari nasional, maka tahun 1959 diadakan lomba tari Serampang Dua Belas pertama tingkat nasional di Jakarta. Kemudian menyusul di Surabaya dan ke tiga di Medan.
“Jadi jika ada orang apalagi anak muda yang bergerak menyemangati kebudayaan, apalagi di Bohorok ini menjadi penting dan sangat luar biasa. Dan khairul dengan uangnya sendiri berani membuat event sebagus itu. Medan mestinya membuat lomba serampang Dua Belas internasional,” tandas Tatan.
Penulis: Ayub Badrin
Editor: Pahala Simanjuntak
















