Jakarta, PONTAS.ID – Para pelaku industri perjalanan wisata yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), siap mendukung pemerintah dalam mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2020.
Demikian disampaikan Ketua Umum ASITA, Nunung Rusmiati saat acara Halal bi Halal 1440 H Keluarga Besar ASITA dan Rembuk Nasional, dengan tema ‘Tantangan Pencapaian Target 20 Juta Wisman di Tahun 2020’ di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta.
“ASITA siap mendukung program promosi Kementerian Pariwisata dalam meraih target kunjungan 20 juta wisman. Kami akan menggencarkan promosi paket-paket inbound untuk mendatangkan kunjungan wisman dari border tourism,” kata Nunung, Selasa (2/7/2019).
Dia pun menjelaskan, bahwa pada rembuk nasional ASITA kali ini juga diusulkan rekomendasi kepada pemerintah terkait masalah harga tiket pesawat domestik. Harga tiket pesawat domestik sekarang ini, menurut Nunung memang sudah relatif turun.
“ASITA menyarankan kepada pemerintah supaya ada sub classes walaupun jumlahnya tidak banyak. Pada periode arus mudik kemarin maskapai menaikkan harga di level TBA (Tingkat Batas Atas) tanpa ada sub kelas harga. Kami minta pasca-lebaran ini maskapai dapat membuka subkelas harga,” ujarnya.
ASITA mencatat penurunan harga tiket pesawat domestik terakhir kali terjadi saat pemerintah menurunkan tarif batas atas sebesar 12-16 persen pada Mei 2019.
Ketika itu seluruh maskapai full service, medium service, dan low cost carrier (LCC) menurunkan harga. Adanya penurunan harga tersebut, diakui Rusmiati, membuat kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi pariwisata mulai meningkat.
Sementara itu Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya yang turut hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa pemerintah menetapkan target kunjungan 20 juta wisman pada tahun depan, dengan proyeksi perolehan devisa sebesar 18,5 miliar dolar AS.
Sedangkan untuk mencapai target 20 juta wisman dilakukan strategi super extra ordinary meliputi border tourism, tourism hub, dan low cost terminal.
“Border tourism harus kita seriusi karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara tetangga,” ujar Arief.
Dia lantas menilai, bahwa dengan mendatangkan wisman dari perbatasan melalui program cross border tourism, dari negara tetangga relatif lebih mudah karena faktor kedekatan (proximity) secara geografis wisman. Program tersebut relatif lebih mudah, cepat, dan murah untuk bisa dilakukan di Indonesia.
Selain itu faktor kedekatan kultural/emosional, serta pertimbangan pasar yang sangat besar baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, maupun Timor Leste sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia.
Penulis: Risman Septian
Editor: Luki Herdian




























