Jakarta, PONTAS.ID – Kabar bohong atau hoax yang beredar di masyarakat Indonesia, terlebih melalui media sosial (medsos), saat ini dinilai sudah masuk dalam taraf memprihatinkan di negara ini, terlebih jelang sepekan pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.
Berdasarkan hasil survei Digitroops Indonesia, hoax sudah seperti menjadi senjata ampuh untuk menjatuhkan elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres) yang akan bertarung di bursa Pilpres 2019 mendatang.
Peneliti Digitroops Indonesia, Yusep Munawar Sofyan mengungkapkan bahwa dari hasil rilis survei yang dilakukan pihaknya, yang menyatakan isu hoax sudah kian memprihatinkan penyebarannya, ada sebanyak 61,6 persen responden.
“Hasil survei Digitroops Indonesia, menyebutkan bahwa isu hoaks yang beredar di tanah air dialamatkan kepada capres tertentu. Terbukti telah menurunkan elektabilitas capres terutama dipemilih yang aktif di media sosial,” kata Yusep dalam konferensi pers di kawasan Cikini, Kamis (11/4/2019).
Penyebaran hoax, tutur Yusep, telah mempengaruhi sebanyak 44,5 persen atau 534 responden yang merupakan pengguna medsos. Dan 55,5 persen responden yang tidak memiliki sosmed menilai bahwa hoaks sudah terlalu banyak, dengan persentase mencapai 34,9 persen.
“Jadi kalau dibandingkan pemilih yang memiliki sosmed rentan sekali terkena hoax. Mereka juga mengakui bahwa pemberitaan media cukup mempengaruhi pilihan masing-masing,” ujarnya.
Yusep menjelaskan, salah satu hoax yang paling banyak mendapat perhatian publik saat Pilpres saat ini adalah isu masuknya jutaan tenaga kerja asing. Sebanyak 48,2 persen menyatakan pernah mendengar isu tersebut. Bahkan ada 46,9 persen percaya dengan masuknya tenaga asing tersebut.
“Hoax yang secara langsung maupun tidak langsung menyerang pasangan Capres-Cawapres tertentu memiliki pengaruh terhadap persepsi publik. Secara linear efek elektoralnya segera terasa. Disini Jokowi kalah pada segmen yang percaya isu hoaks,” tutur dia.
Isu hoax serbuan tenaga kerja asing, lanjut Yusep, jelas memberikan efek atau dampak bagi petahana. Bahkan sampai 22,6 persen dari populasi responden.
“Hoax yang secara langsung maupun tidak langsung pasti menyerang paslon tertentu. Dan dalam hal ini petahana (Jokowi) kalah pada segmen yang percaya pada isu hoax,” tandas Yusep.
Untuk diketahui, survei terbaru dari Digitroops Indonesia ini melibatkan 1200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia, yang dilakukan pada Bulan Maret 2019 dengan margin of error kurang lebih 2,8 persen.
Penulis: Risman Septian
Editor: Idul HM




























