Oleh: Yeka Hendra Fatika
Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA).
Sebentar, jangan dulu sensi membaca tulisan ini. Bagi anda yang berpikir bahwa akhir tulisan ini akan mengarah ke salah satu paslon pilpres, maka hentikan membacanya. Namun ini juga bukan ajakan untuk Golput!
Ada dua alasan, mengapa saya memilih judul ini. Pertama, seminggu sebelum acara rembuk Petani dan Peternak, yang dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Maret 2019, saya disibukkan dengan berbagai pertemuan baik formal maupun informal yang mempertanyakan motif politik dibalik acara ini, yang bertepatan di momen pilpres. Selain itu juga banyak tuduhan, hingga sampai ada yang demo di mabes POLRI, oleh kalangan yang saya pun tidak tahu siapa sebenarnya, yang jelas, mereka minta acara rembuk petani peternak itu dibatalkan. Bahkan, katanya, darah kami, pelaksana acara rembuk ini, halal untuk dimakan (Maksudnya mungkin diminum). Serem juga yaa, sampai bawa bawa darah segala.
Alasan kedua, sekonyong konyong saya mendapatkan whatsApp (WA), dari orang yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri.
Dia tanya, “akan pilih siapa pada pilpres ini?” Lalu saya jawab, “saya tidak akan pilih anu”. Kemudian dia balas, “Pilihan kita beda yaa?”. Saya bilang, “Perbedaan itu membawa berkah”. Ternyata dia tidak balas lagi. Tadinya saya berharap dia tanya, mengapa berkah kalau pilihan berbeda? Dan, saya pun sudah siap siap memberikan jawabannya. Bukan jawaban jelimet atau mempunyai bobot intelektual tinggi, namun jawabannya sederhana, “Kalau ngak beda, ngak seru!” Seru itu penting, karena dengan keseruan, kita akan harap harap cemas, jika pilihan kita menang, maka adrenalin kita akan melompot tinggi, “Yes, apa saya bilang!”, dan kita mendadak menjadi pengamat politik tingkat dewa! Namun jika pilihan kita kalah, “ohhhh….noooo”, namun diucapkan dalam hati, sambil diliputi rasa ketidakpercayaan mengapa bisa kalah. Dalam posisi ini, semoga kita semua mendapatkan kedewasaan untuk menerima kekalahan, bukan?
Lalu, bagaimana dengan petani peternak, kemanakah suaranya? apakah nanti akan banyak yang bilang “yes”, merasa telah memenangkan pesta politik atau yang bilang ,”no”, merasa kalah?
Menurut saya, siapapun pilihannya, ujungnya mau menang atau kalah, pada hakikatnya kita mempunyai peluang untuk sama sama mendapatkan kemenangan, jika kita menempatkan pilpres ini sebagai momen untuk mengevaluasi apa yang terjadi dalam kehidupan sekitar kita. Petahana, hanya punya satu kesempatan lagi untuk menjadi Presiden, melanjutkan segenap prestasinya, dan penantang punya kesempatan untuk memberikan penawaran yang lebih baik lagi dibandingkan dengan petahana.
Silahkan evaluasi sekitar kita, tidak perlu kita termakan dengan semua janji, karena janji yang disampaikan saat kampanye, selalu manis dan mudah dilupakan. Jika kita merasa bahwa kehidupan kita dan sekeliling kita jauh lebih baik, sah saja jika kita memilih petahana. Akan tetapi sebaliknya, jika kita melihat bahwa kondisi kehidupan sekeliling kita tidak makin lebih baik, maka sah juga jika kita menggantung harapan kepada sang penantang.
Apakah kondisi pertanian dan peternakan kita lima tahun ini semakin membaik atau sebaliknya? Silahkan kita evaluasi masing masing, jangan melihat yang jauh jauh, liat saja seputar lingkungan kita. Pasti ada yang menyatakan lebih baik, pasti ada yang menyatakan sebaliknya. Dan dan semua itu tidak perlu diperdebatkan, karena kita memilih bukan karena termakan janji, bujukan, rayuan, atau bahkan sogokan, melainkan karena pilihan merdeka diri kita terhadap sekeliling pembangunan pertanian dan peternakan yang kita rasakan.
Saya jadi teringat sebuah tulisan dari salah satu pejuang kemanusiaan kita, Jaya Suprana. Dalam bukunya berjudul “Naskah Naskah Kemanusiaan”, “Apabila dahulu rakyat ditindas oleh penjajah maka kini rakyat ditindas oleh bangsanya sendiri yang justru dipilih oleh rakyat untuk menjadi penguasa rakyat. Semua ini hanya bisa terjadi akibat pembiaran”. Saya terkesan dengan satu kata, dari rangkaian kalimat itu, yaitu, pembiaran!
Jika kita merasa bahwa arah pembangunan pertanian dan peternakan kita sudah sesuai dengan cita cita dan harapan petani dan peternak, bahwa banyak diantara petani dan peternak merasa meningkat kesejahterannya, merasa lebih baik kehidupannya, maka jangan dibiarkan, pilihan kita nantinya jatuh pada penguasa rakyat yang mempunyai arah sebaliknya.
Jika kita merasa arah pembangunan pertanian dan peternakan kita masih jauh dengan cita cita dan harapan para petani dan peternak, maka jangan dibiarkan. Gunakan momen politik ini, untuk saling membuat kontrak politik dengan siapapun, agar pembangunan pertanian dan peternakan kita, semakin lebih baik dan mensejahterakan kedepannya. Jangan sampai kita memilih, pada penguasa yang akhirnya akan menindas kita.
Siapapun pemenangnya nanti, harapan saya kedepannya kesejahteraan petani dan peternak rakyat bisa menjadi semakin lebih baik. Semakin banyak kebijakan yang pro terhadap petani dan peternak rakyat. Semakin banyak program program yang menyentuh langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan peternak. Masa depan harus lebih baik dari hari ini bukan? Baik petahana maupun penantang berpotensi untuk menjadikan masa depan lebih baik lagi. Jadilah pemilih yang aktif, sampaikan aspirasi dan harapan harapan anda kepada petahana maupun penantang pilpres dengan jalan damai, santun dan beradab.
Ada saatnya saya melibatkan dalam demo, membuat dan memperluas ruang publik seperti rembuk petani peternak, pesan nya cuma satu, kepada petahana, kepada penangtang, tolong perhatikan nasib petani peternak yang bersuara ini. Dalam maklumat yang dihasilkan saat rembuk petani peternak 2019, terdapat lima tuntutan petani peternak, yaitu:
1. Menjaga stabilitas pasokan dan harga agroinput pertanian/peternakan.
2. Menjaga usaha petani/peternak nasional.
3. Menjaga pasar dalam negeri untuk petani/peternak dalam negeri.
4. Menjaga keadilan dan kesejahteraan petani/peternak Indonesia.
5. Mempercepat proses restrukturisasi kepemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria khususnya pada sektor pertanian
Semoga, petahana dan penangtang, dapat memenangkan suara petani dan peternak Indonesia.
Editor: Idul HM




























