Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengatakan pariwisata berbasis digital merupakan instrumen yang baik untuk menarik minat kunjungan, dan memobilisasi wisatawan milenial.
Demikian disampaikan Arief dalam kegiatan CEO Power Breakfast bertema ‘Building a Lasting Legacy in The Economy Era’ yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Arief pun mengingatkan pentingnya peran media digital bagi keberlangsungan pariwisata. Terlebih, aktivitas pariwisata yang berjalan kini banyak dilakukan oleh anak muda dengan memanfaatkan teknologi digital.
Selain itu, segmen pasar kaum milenial sangat penting karena kehadiran mereka di sosial media berpengaruh besar bagi pariwisata. Maka, dia menekankan kesiapan pariwisata berbasis digital pun harus dilakukan secara serius untuk menarik minat kunjungan wisatawan kaum milenial.
“Kaum milenial ini punya kebiasaan baru. Mereka suka untuk berkunjung ke lokasi yang belum pernah didatangi. Kalau makan, makanannya di foto dulu, lalu semua kegiatan mereka di posting di sosial medianya,” kata Arief dalam siaran pers Kemenpar, Kamis (28/2/2019).
Arief melanjutkan, sebanyak 70 persen kegiatan pariwisata yang berjalan saat ini berbasis digital. Keinginan generasi milenial maupun individu yang senang ‘berbagi’ di media sosial itu, menjadi potensi baik untuk meningkatkan pariwisata dunia digital ini.
“Lifestyle sudah berubah, lebih banyak orang yang suka memanfaatkan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Efektivitasnya pun mencapai 4 kali lipat dibanding cara konvensional. Kalau menurut bahasa anak muda adalah destinasi yang ‘instagramable’,” ujarnya.
Saat ini ada banyak perusahaan travel agent besar yang sedang merajai dunia pariwisata dan keduanya berbasis digital. Nilai atau value perusahaan terbesar saat ini dipegang oleh Traveloka yang mencapai 300 miliar rupiah.
Arief melanjutkan, imbauan yang dia sampaikan juga dilakukan di lingkup kementerian yang dipimpinnya. Pemetaan anggaran dilakukan dengan membagi 70 persen anggaran untuk keperluan digital, sedangkan 30 persen untuk promosi pariwisata.
“Pemetaan anggaran ini menunjukan keseriusan kami menjaring wisatawan milenial yang potensinya sangat besar. Ini membuktikan bahwa dunia digital dan pariwisata bisa bersinergi,” tukas dia.
Editor: Risman Septian




























