Jakarta, PONTAS.ID – Pemerintah melalui kementrian Pertanian menyampaikan bahwa ekspor jagung indonesia hingga november 2018 mencapai 372 ribu ton. Hal ini juga yang mendorong terbentuknya opini bahwa indonesia baru pertama kali lakukan ekspor jagung. Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Yeka Hendra Fatika membantah opini tersebut.
Menurutnya, tidak benar bahwa ekspor jagung baru dilakukan di tahun ini saja. “Pemerintah indonesia sudah lama melakukan ekspor jagung ke beberapa negara, dengan kecenderungan ekspor yang sangat berfluktuasi” ujar Yeka saat Pembicara dalam diskusi “Data Jagung yang Biking Bingung” yang diselenggarakan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/2/2019).
Lanjut Yeka, ekspor jagung indonesia sepenuhnya didorong oleh aktifitas bisnis biasa, terutama perdagangan di wilayah perbatasan antar negara. Jenis jagung yang diekspor dalam bentuk jagung pipil (paling banyak), jagung manis, benih jagung dan popcorn.
Bukan hanya itu saja, Kementerian pertanian juga mengeluarkan rilis resmi bahwa sejak 2017 sampai nopember 2018 indonesia sudah stop impor jagung. dengan penghematan kumulatif impor dihitung sebesar 9,2 juta ton sejak 2016 – 2018. Hal ini menimbulkan pertayaan darimanakah data kementrian ini didapat?
Faktanya bahwa tidak benar pemerintah indonesia tidak melakukan impor jagung pada periode 2017-nop 2018. “Yang benar adalah terjadinya penurunan impor jagung. atau, tepatnya disebut sebagai kebijakan pengendalian impor jagung” jelas Yeka.
Namun demikian, lanjut Yeka, penurunan impor jagung ini diikuti dengan peningkatan impor gandum secara signifikan dari tahun ke tahun. Selama periode 2013-2018, impor jagung rata rata menurun sebesar 13, 8 % per tahun. Selama periode 2013-2018 impor gandum pakan rata-rata mengalami peningkatan sebesar 296,5%per tahun.
“Mengikuti formula perhitungan kementan, bahwa akumulasi penghematan impor jagung selama 2016-2018 sebesar 9,2juta ton, maka dengan cara yang sama, dapat diketahui bahwa kebijakan pengendalian impor jagung berakibat terhadap adanya akumulasi pemborosan impor gandum untuk pakan sebesar 6,35 juta ton dalam periode yang sama” jelasnya.
Ia menyimpulkan, kebijakan pengendalian impor jagung (stop impor jagung) yang dilakukan oleh kementrian pertanian, telah mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar 52,16 triliun (2016 -2018)
Yeka menyoroti peryataan bahwa Kementan mencatat surplus jagung sebesar 12,92 juta ton. Hal ini disebabkan adanya luas panen jagung 2018 sekitar 5,3 juta hektare.
“logika surplus yang dibangun kementrian pertanian, secara teknik dan ekonomis sangat tidak mungkin terjadi. Kementerian Pertanian perlu berhati-hati dalam mengklaim isu surplus jagung ini,” katanya .
Ia mengatakan, dengan asumsi 1 hektare memerlukan benih jagung rata-rata sebesar 20 kilogram, maka pada 2018 memerlukan benih jagung sebanyak 106.000 ton benih. Padahal, lanjutnya, kapasitas produksi benih nasional diperkirakan tidak pernah melebihi 60.000 ton benih.
Yeka mengatakan, kebijakan kementerian pertanian untuk mengedalikan impor telah mengakibatkan kerugian ekonomi sebesar 17,39 t per tahun selama 2016-2018
“Keputusan importasi jagung yang dilakukan oleh kememko perekonomian sudah merupakan langkah tepat, meskipun dinilai terlambat. importasi jagung jangan ditempatkan sebagai pemadam kebakaran atas kondisi peternak. akan tetapi harus dipandang sebagai cadangan jagung nasional yang dapat digunakan sewaktu waktu jika diperlukan, ujarYeka.
Ia juga mendorong, perlu pengusutan lebih lanjut mengenai problem hilir (budidaya) jagung, yang diduga banyak permasalahan.
Ditempat yang sama, Peneliti Visi Teliti Saksama Nanug Pratomo mengingatkan bahwa kondisi permintaan terhadap jagung masih belum mencapai keseimbangan dengan jagung yang diproduksi.
Selain itu, ujar dia, disorot pula mengenai persoalan panjangnya rantai distribusi yang menjadi salah satu penyebab mengapa harga jagung fluktuatif.
“Selama jagung belum bisa ‘full’ memenuhi kebutuhan dalam negeri, impor jagung dibutuhkan, setidaknya dalam jangka pendek,” paparnya.
Sedangkan Presidium Agri Watch Dean Novel, yang juga hadir dalam diskusi megatakan, bahwa sudah banyak kalangan berulang-ulang mengingatkan tentang carut-marut pengeloan pangan, khususnya jagung.
Ia mengatakan, kebutuhan konsumsi pakan peternak diperkirakan akan terus meningkat. Dean Novel mengusulkan adanya sistem dan mekanisme pertanian yang berkelanjutan.
Editor: Idul HM




























