Kunjungan Wisatawan Turun, Kenaikan Tiket Pesawat jadi Faktor Utama

Jakarta, PONTAS.ID –¬†Persoalan Kenaikan tarif tiket pesawat dan bagasi berbayar berimbas pada bisnis pariwisata. Seperti yang terjadi di kawasan wisata Raja Ampat, Papua Barat, mengalami penurunan jumlah kunjungan.

Anny Rahman, salah seorang agen pariwisata Raja Ampat yang biasa melayani wisatawan di Bandara Deo Sorong, mengatakan saat ini jumlah penumpang berkurang. Diakui Anny jumlah seat untuk kapal yang membawa turis menuju Raja Ampat hampir separuhnya kosong. Bahkan, kadang tidak ada penumpang.

“Ya, penyebabnya kenaikan tarif tiket pesawat dan bagasi berbayar. Wisatawan berkunjung ke Raja Ampat baik domestik maupun internasional mulai berkurang,” kata Anny, kemarin.

Menurutnya, seharusnya tiket pesawat tidak perlu naik, demikian juga bagasi tidak berbayar. “Di Malaysia tiket pesawat murah dan bagasi tidak berbayar, kenapa di sini sebaliknya,” keluhnya.

Dampak yang besar akibat harga tiket mahal dan bagasi berbayar juga dirasakan industri pariwisata di sejumlah daerah. Seperti di Kalimantan Selatan, tingkat kunjungan wisatawan turun sampai 14%.

“Kunjungan ke tempat wisata berkurang. Imbasnya sampai ke para pemandu wisata serta masyarakat yang mengandalkan penghasilan dari sektor wisata, seperti motoris perahu motor dan sebagainya,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Dahnial Kifli.

Guna membangkitkan industri wisata daerah ini, Pemprov Kalsel mengimbau masyarakat agar lebih memilih destinasi wisata di daerah sendiri guna menghidupkan industri wisata dan UMKM daerah. Di sisi lain, Pemprov Kalsel juga terus berupaya mengembangkan industri pariwisata dengan menggelar beragam event wisata dan membuat destinasi wisata baru. Saat ini, harga tiket Banjarmasin ke Surabaya rata-rata mencapai Rp1,2 juta dari harga normal sebelumnya hanya Rp400-Rp600 ribu.

Dari Bangka Belitung, hal serupa juga dirasakan para penggiat pariwisata. Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia Bangka Belitung, Bambang Patijaya, mengatakan ada sekitar 50 anggota PHRI yang telah mengeluhkan situasi bisnis lesu sejak akhir 2018 hingga awal 2019. Menurutnya, tidak ada wisatawan yang datang ke Bangka Belitung.

“Pada Desember 2018, okupansi perhotelan hanya 1 hotel yang mengaku okupansinya 100%. Lainnya di bawah 90% di Belitung, ini jarang terjadi. Bangka juga sama okupansi hotelnya hanya 70%. Ini mungkin ada tsunami di Banten mengurangi berlibur ke pinggir pantai. Tapi, utama karena biaya bepergian ke Babel mahal,” kata Bambang.

Selain perhotelan dan rumah makan, pusat oleh-oleh dan suvenir juga sepi. Seperti yang terjadi di Kota Pekanbaru, Riau. Para pedagang oleh-oleh yang tergabung dalam UMKM mengalami penurunan dari segi penjualan.

“Penjualan oleh-oleh menurun drastis karena bagasi berbayar. Perputaran uang melambat,” kata Ibnu Masoed, Ketua Penasihat DPD Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita) Riau.

Ketua DPD Asita Riau, Dede Firmansyah, menambahkan saat ini Asita Riau menawarkan paket wisata ke perusahaan dan komunitas dengan transportasi darat ke Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Ini sebagai alternatif tawaran ke wisatawan sejak mahalnya harga tiket pesawat.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here