Jakarta, PONTAS.ID – Perusahaan Umum (Perum) Bulog mengakui ketahanan stok pangan dapat terus terjaga pada tahun ini. Pasalnya beberapa stok komoditas pangan sisa tahun lalu dinilai masih mencukupi sehingga bisa membantu stabilisasi harga pada 2019.
Sepanjang 2018, Perum Bulog memperoleh berbagai penugasan pemerintah untuk menjaga stok dan harga beberapa komoditas pangan. Misalnya, mengimpor beras sebanyak 2 juta ton serta menyerap beras petani dengan target 2,72 juta ton.
Namun, tahun lalu Bulog hanya mengimpor 1,8 juta ton beras dan menyerap 1,5 juta ton beras dari dalam negeri. Sehingga stok akhir Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada akhir tahun 2018 mencapai 2,1 juta ton.
Sementara untuk komoditas lainnya seperti gula pasir tercatat memiliki cadangan hingga 477 ribu ton, jagung 53 ribu ton, daging kerbau 5,8 ribu ton, minyak goreng 2,6 ribu kiloliter. “Operasi Pasar terus dilakukan sehingga tidak perlu ada kekhawatiran pada masyarakat dan gejolak harga di pasar, serta menjamin hasil panen petani dapat diserap sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas), melalui siaran pers, Kamis (3/1/2019).
Buwas mengatakan, pihaknya konsisten menjalankan berbagai penugasan dari pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan. Upaya mewujudkan kedaulatan pangan melalui stabilisasi harga pun dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir.
Seiring dengan realisasi tersebut, dia mengklaim Bulog berhasil menstabilkan harga pangan pokok. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), harga rata-rata beras umum selama 2018 sekitar Rp 11.606 per kilogram, gula pasir Rp 13.676 per kilogram, dan daging sapi Rp 114.195 per kilogram, serta jagung Rp 7.316 per kilogram.
Pemerintah telah mengkaji dan menghitung kebutuhan pangan untuk menentukan impor komoditas strategis pada 2019. Hasilnya, sejumlah komoditas pangan seperti gula, garam, dan daging kemungkinan akan tetap diimpor kendati sebagian jumlahnya diperkirakan lebih sedikit.
Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akhir tahun lalu menetapkan potensi kebutuhan yang harus didatangkan dari luar negeri.
Darmin dalam rapat tersebut menegaskan, perhitungan kebutuhan impor gula dan garam hanya diperuntukkan bagi industri yang membutuhkan bahan baku sesuai dengan spesifikasinya serta untuk kembali diolah. Jadi, bukan untuk konsumsi masyarakat.
Proyeksinya, impor gula mentah pada 2019 akan mencapai 2,8 juta ton dan impor garam mencapai 2,7 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan alokasi impor gula dan garam pada 2018, masing-masing sebesar 3,6 juta ton dan 3,7 juta ton.
Sementara menurut data Kementerian Perdagangan, realisasi impor gula per September hanya 1,87 juta ton. Kemudian, impor garam per November sebesar 2,17 juta ton.
Editor: Idul HM




























