BPS Anggarkan 64 Miliar utuk Pendataan Produksi Beras

Ilustrasi Panen Padi

Jakarta, PONTAS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kebutuhan anggaran untuk  pendataan produksi beras nasional dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA) mencapai sekitar Rp 64 miliar per tahun.

Dana tersebut antara lain digunakan untuk pelatihan petugas dan kunjungan ke 217 ribu titik sawah.

Kendati jumlahnya besar, BPS menyebut tidak meminta anggaran tambahan baru untuk proses pendataan beras dengan metode baru KSA ini.

“Kami melakukan efisiensi dari anggaran tahunan BPS. Jadi tidak ada minta tambahan anggaran. Pendataan ini sudah kami jalankan sejak Januari,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

BPS akan secara rutin mendata produksi beras dengan metode KSA setiap bulan. Suhariyanto mengungkapkan pengecekan data produksi bakal dilakukan pada setiap minggu keempat dalam setiap bulan, yaitu pada tanggal 23-28 tiap bulannya. Kemudian, data akan mereka rilis dua kali dalam setahun.

Para petugas akan mengecek langsung hasil produksi dengan metode KSA di 217 ribu titik sawah. Inisiasi pendataan produksi beras dengan metode KSA sebetulnya sudah dilakukan sejak 2015.

“Berdasarkan perintah Wakil Presiden Jusuf Kalla, kami juga bekerja sama dengan Forum Masyarakat Statistik (FMS),” ungkapnya.

Selain untuk komoditas beras, pencatatan data produksi pertanian dengan metode KSA juga diusulkan diperluas ke komoditas jagung dan kedelai. Hal ini diusulkan oleh Ketua Forum Masyarakat Statistik (FMS) Bustanul Arifin, sekaligus Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung.

“Kita semua ingin untuk pangan pokok harus ada ukuran data yang lebih baik,” ujarnya.

Bustanul menyatakan untuk pengukuran tersebut, pihaknya siap memberi masukan kepada BPS mengenai strategi penghitungan jagung serta kedelai.

Menurutnya, dalam pendataan kedua komoditas itu kemungkinan akan menghadapi sedikit kesulitan karena tak ada keterangan lahan baku dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

Namun demikian, penghitungan jagung dan kedelai tak akan memakan biaya besar sebab proses penghitungannya bisa dilakukan bersamaan. Alasannya, jagung dan kedelai biasanya berada pada daerah yang memiliki lahan sawah tadah hujan.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here