Jakarta, PONTAS.ID – Tepat hari ini, 31 tahun lalu masyatakat Ibu Kota Jakarta di gemparkan dengan peristiwa kecelakaan maut luar biasa yang menelan korban sedikitnya 156 orang dengan lebih dari 300 orang terluka berat maupun ringan.
Kecelakaan ini menjadi sorotan seluruh Indonesia dan juga Dunia. Peristiwa yang terjadi di Bintaro, Jakarta Selatan pada pukul 06:45 pagi itu, merupakan jurusan kereta Merak-Tanah Abang-Rangkas Bitung. Kereta yang dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api Eksploitasi Jakarta ini merupakan kecelakaan kereta yang saling berhadapan.
Tabrakan antara KA 225 Patas Merak dan KA 220 ini, disebabkan oleh kesalahan komunikasi dari kepala stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 ke Stasiun Sudimara tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Sehingga, ketika KA 225, jurusan Rangkas Bitung-Jakarta Kota tiba di stasiun Sudimara pada pukul 06:45 WIB, stasiun Sudimara yang memiliki 3 jalur saat itu penuh dengan Kereta Api.
KA 225 sedianya bersilang dengan KA 220 Patas di stasiun Kebayoran yang hendak ke Merak. Itu berarti KA 220 Patas di stasiun Kebayoran harus mengalah, namun PPKA Stasiun Kebayoran tidak mau mengalah dan tetap memberangkatkan KA 220.
Banyak dugaan dan keterangan, sejumlah orang telah berusaha menahan kepergian KA 225. Namun, usaha mereka gagal, diketahui, walau sudah diperingati untuk memberi semboyan peringatan, penjaga perlintasan Pondok Betung tidak hafal semboyan genta. Semboyan genta ini berupa, warna/cahaya, sinyal, suara dan lain-lain.
Masinis KA 225 Slamet Suradio diganjar kurungan 5 tahun, sedangkan Adung Syafei kondektur KA 225 diganjar hukuman 2 tahun 6 bulan. Juga dengan Umrihadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan. Dari peristiwa ini, banyak kalangan seniman membuat suatu karya yang diangkat dari tragedi terparah yang dialami Kereta Api Indonesia.
Mulai dari Iwan Fals, Ebiet G Ade, hingga judul film “Tragedi Bintaro” yang disutradarai Buce Malawau pada 1989. Menjadi bukti, betapa ingatan tragedi mengerikan ini sangat membekas dan menjadi traumatik baik bagi pihak Kereta Api dan Penumpangnya.
Penulis : Corani




























