Stop Mafia Pangan, Program BULOG Harus Berbasis Primer Koperasi

Oleh: H. Asrul Hoesein
Direktur Green Indonesia Foundation Jakarta

Progres Perum BULOG dengan berbagai program selama ini sesungguhnya sudah mencapai pintu rumah masyarakat. Jadi BULOG hadir di sekitar kita. Namun harus lebih diupayakan lagi mendekatkan BULOG dengan masyarakat, bukan hanya sampai di pintu tapi harus masuk ke dapur masyarakat. Program hulu-hilir harus masuk ke dapur masyarakat (konsumen) dengan cara diikat tali kelembagaan berbasis gotong royong dari hulu ke hilir pula. Agar benar-benar aman dari permainan negatif seperti selama ini terjadi.

Kelembagaan paling solid dan melindungi semua pihak yaitu dengan pembentukan badan hukum Primer Koperasi Kita BULOG (PKKB), untuk menjadi pengikat yang erat terhadap masyarakat menengah ke bawah yang menjadi mitra konsumen, selama ini sesungguhnya masih lepas dan berserak serta berpotensi dirasuki oleh mafia.

Konsumen Perum BULOG sesungguhnya masih labil dan sangat mudah tersentuh dan disentuh oleh gejolak politik dan ekonomi jangka menengah dan panjang oleh kelompok mafia nasional dan internasional, serta terhadap gangguan dan pengaruh kelompok rentenir dari hulu ke hilir, bila tanpa sebuah ikatan yang kuat dan berbadan hukum.

Bila PKKB terlaksana, banyak varian-varian pemasaran yang bisa tercipta untuk mengawal produk komersial. Misalnya dengan menggunakan Kartu Anggota PKKB, bisa digunakan belanja di Toko Ritel atau Pasar Moderen di seluruh Indonesia untuk mendapat discount belanja dari produk komersial Perum BULOG serta jenis manfaat lainnya seperti discount khusus pada usaha-usaha jasa Perum BULOG, seperti discount hotel dan lain-lain. Anggota PKKB juga bisa memantau sekaligus menjadi supplier pada Toko Ritel di wilayahnya atas produk-produk komersial Perum BULOG. Agar ketersediaan produk komersial Perum BULOG dapat memantau ketersediaannya pada ritel yang tersebar di seluruh Indonesia.

Keanggotaan PKKB bersifat pribadi dan suka rela serta terbuka kepada masyarakat dan mitra kerja Perum BULOG. Namun harus menjadi catatan penting, bahwa dalam pendirian dan penerimaan anggota PKKB ini harus lebih ketat. Ini merupakan syarat utama agar konsep koperasi Bung Hatta terwujud dengan baik. Bukan menjadi koperasi papan nama, seperti praktek koperasi saat ini. Maka dengan adanya PKKB ini, sekaligus ikut memberi contoh atau “mereformasi” system perkoperasian Indonesia.

Strategi program Perum BULOG, akan berkelanjutan dan melindungi masyarakat bila disatu-padukan dengan sebuah kelembagaan PKKB. Tentu dengan adanya kelembagaan koperasi ini para rentenir di tingkat petani, baik yang bekerja sendiri maupun menjadi kaki tangan mafia tidak berani mendekat.

Koperasi ini nantinya menjadi lembaga koperasi tangguh dimana “anggota koperasi” yang akan memproduksi mulai pupuk organik berbasis sampah dan limbah pertanian sampai pada budidaya tanaman pangan (on-farm), mengolah produk pasca panen (off-farm),  memasarkan produk pangan (komersial) dan sampai kepada mengkonsumsinya sendiri. Lingkaran proses produksi dan pemasaran tersebut harus terisi dan tidak terputus, jadi tidak ada celah atau ruang yang kosong untuk masuknya para mafia pangan. Ini yang harus menjadi perhatian penuh Perum BULOG ke depan agar Indonesia berdaulat pangan menuju ketahanan pangan yang abadi.

Khusus pada program BULOG On-farm, melalui PKKB akan meningkatkan kualitas dan kuantitas melalui produksi pangan dari pertanian konvensional (mengandalkan pupuk kimia) menjadi pertanian organik (mengandalkan pupuk organik). Indonesia sebuah harga mati harus membangun pertanian organik berbasis sampah bila ingin mengembangkan pertanian organik. Sampah organik yang melimpah di Indonesia harus diberdayakan guna mengawal pertanian organik.

Diharapkan Perum BULOG melalui program On-Farm bisa mendukung Kementerian Pertanian dalam merubah paradigma petani dari pola pertanian konvensional menuju pertanian organik. Pertanian organik merupakan sebuah keniscayaan untuk mensejahterahkan petani menuju kepada kedaulatan pangan. Ketahanan pangan bisa terwujud hanya dengan pertanian organik dengan prinsip pertanian organik berbasis padat karya dan berbiaya murah, tapi dengan produksi pangan yang optimal dan sehat.

PKKB juga masuk ke Program BULOG off-farm atau pasca-budidaya untuk menutup ruang mafia pangan, agar lebih menguatkan unsur pasokan pangan yang berkualitas dalam menjangkau pasar. Karena petani dan masyarakat itu sendiri yang akan mengelola industri pasca panen atau anggota PKKB akan mengelola langsung pada proses off-farm. Perum BULOG harus masuk dalam usaha off-farm secara total. Ahirnya pangan Indonesia kuat dari hulu-hilir agar ke depan Indonesia melalui PKKB dapat menjadi pengeskspor pangan dan bukan menjadi pengimpor pangan.

PKKB akan menjadikan BULOG dan masyarakat menjadi satu kesatuan yang kuat dan bukan hanya sebatas konsumen produk BULOG. Tapi masyarakat menjadi bersatu padu dalam “rumah bersama” dengan BULOG sebagai pelindung masyarakat pada sektor pangan, sepantasnya BULOG bersama anggota PKKB menjadi produsen sekaligus konsumennya sendiri. Ahirnya para tengkulak dan mafia tidak berani mendekat lagi. Karena terjadi sebuah kesatuan tanpa ruang pemisah melalui sebuah lembaga primer koperasi yang didukung penuh oleh Perum BULOG dan kementerian terkait atau stakeholder lainnya.

Proses Kinerja PKKB

PKKB berdiri dan berproses dalam kegiatan usahanya bersama masyarakat pengguna manfaat dan pengelola produk sebagai anggota PKKB masing-masing bidang usaha sbb:

PKKB On-Farm, petani lebih berdaya dalam berproduksi termasuk tambahan usahanya adalah produksi pupuk organik berbasis limbah pertanian dan sampah.

1. PKKB Off-Farm sebuah kegiatan usaha dari seluruh rantai produksi hingga produk komersial.
2. PKKB Terminal Agribisnis.
3. PKKB Jasa Distribusi, Suplier, Logistik, Survey dan jasa lainnya.
4. PKKB BULOG Ritel, BULOG Mart, target membangun ritel di setiap desa. Agar BULOG benar-benar melindungi dan melayani masyarakat.

PKKB adalah inovasi besar yang merupakan keniscayaan Perum BULOG bila ingin menjadi penjaga pangan Indonesia yang disegani oleh mafia dan dunia internasional. Semoga Indonesia ke depan bukan hanya bisa memberi makan penduduk Indonesia ke-4 terbesar setelah India, tapi mampu masuk menjadi salah satu negara pemberi makan 9 miliar penduduk dunia pada tahun 2050.

Bila PKKB berada di semua “Titik Proses” produksi sampai produk komersial, yakin bahwa peran mafia dalam pengadaan rantai pasok komoditas pangan akan terhindari. Jadi tidak ada satupun lini yang mafia bisa masuki, karena disana ada PKKB. Pembentukan PKBB akan menjadikan petani tangguh dan konsumennya akan tenang, ahirnya solusi kestabilan produksi dan stok kebutuhan pokok dapat terkendali.

 

Previous articleBIFA 2018, BNI Syariah Raih The Most Innovative Sharia Product
Next articleAnies: Bangun Indonesia Tak Hanya Kerja Kerja Kerja, Tapi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here