Demokrat Nilai Jokowi Ajak Kekerasan, Parpol Koalisi: Itu Interpretasi Liar

Presiden Jokowi saat menutup Rembuk Nasional Aktivis ’98, di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6/2018).

Jakarta, PONTAS.ID – Parpol koalisi Jokowi mempertanyakan maksud dari tudingan Partai Demokrat menyebut Presiden Jokowi mengajak relawan melakukan kekerasan.

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany mengatakan munculnya anggapan itu adalah interpretasi yang liar. Tsamara juga mempertanyakan maksud pihak-pihak pengkritik yang menafsirkan kalimat Jokowi setengah-setengah.

Hal itu disampaikan Tsamara untuk menanggapi pernyataan Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat (PD) Ferdinand Hutahaean.

“Saya pikir statement PD lagi-lagi interpretasi liar yang tak melihat konteks statement Pak Jokowi. Mengapa hanya kalimat terakhir yang dibahas?” kata Tsamara, Senin (6/8/2018).

“Mengapa tidak dibicarakan mengenai statement Pak Jokowi tentang jangan bangun permusuhan, jangan melakukan ujaran kebencian dan fitnah? Mengapa bagian ini nyaris tak dilihat sama sekali dan pernyataan itu dicabut dari konteksnya?” sambung Tsamara.

Tsamara menjelaskan kata ‘berantem’ yang dipakai Jokowi tak dapat serta merta ditafsirkan kontak fisik. Menurut Tsamara, maksud dari ‘berantem’ yang dikatakan Jokowi adalah adu ide dan gagasan.

“‘Berantem’ atau ‘kelahi’ yang dimaksud Pak Jokowi bukanlah soal fisik. Kelahi juga bisa soal ide dan gagasan. Tapi kok PD interpretasinya kelahi fisik?” ujar Tsamara.

Tsamara menilai kritikan PD kepada Jokowi tak lebih dari sekadar upaya memelintir maksud sesungguhnya dari pernyataan Jokowi dan menjelekan Jokowi. Tsamara meyakini adanya upaya tersebut dari Demokrat mengingat ini masuk tahun politik Pilpres dan Pileg 2019.

“Tentu saja ada upaya mempelintir statement Pak Jokowi di sini. Itu jelas. Namanya juga tahun politik. Jelas segala upaya dilakukan untuk menjelekkan Pak Jokowi, termasuk membangun opini menyesatkan yang tak sesuai dengan konteks statement,” tandas Tsamara.

Jangan Salah Tafsir

Sementara itu, Wasekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan meminta jangan ada salah tafsir atas pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada relawan. Menurut Daniel, konteks Jokowi mengatakan ‘berani jika diajak berantem’ adalah sedang menyemangati relawannya.

“Itu kan konteksnya adalah menyemangati para sukarelawan. Itu jangan disalahtafsirkan. Itu sepenuhnya untuk menyemangati kok,” kata Daniel, Senin (6/8/2018).

Daniel menuturkan pesan yang ditekankan Jokowi kepada relawannya adalah untuk memenangkan hati rakyat. Memenangkan hati itu dilakukan dengan cara yang baik.

“Karena kan penekanan dari Pak Jokowi jelas, karena seluruh sukarelawan memenangkan hati rakyat tugas utamanya sampai ke desa. Tentu dengan cara-cara yang baik bukan dengan berantem,” ujar Daniel.

Sebelumnya, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menyayangkan pernyataan ‘berani jika diajak berantem’ yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada relawannya. PD meminta Jokowi tidak berlaku seperti provokator.

Dia menilai pernyataan Jokowi tidak patut. PD menyarankan DPR memanggil Jokowi soal arahannya itu. “Sungguh ini tak layak, tak patut dan tidak etis. Saya pikir DPR harus memanggil presiden dan menegurnya karena ini bibit perang saudara,” cetusnya dalam pesan singkat yang diterima detikcom.

Selain itu, Jokowi didesak menarik kata-katanya. “Presiden juga harus menarik kata-katanya, minta maaf salah diksi dan menganjurkan persaudaraan bukan perpecahan. Presiden kok mengamjurkan perkelahian? Ini salah dan harus ditegur,” jelas Ferdinand.

Previous articleKementerian ATR/BPN Meriahkan Pemecahan Rekor Dunia Senam Poco-poco
Next articleAHY Diyakini Bisa Gaet Pemilih Milenial