Waduh, Harga Produk Makanan dan Minuman Bakal Naik

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman.

Jakarta, PONTAS.ID – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman mengungkapkan bahwa sejumlah pengusaha makanan dan minuman (mamin) berencana untuk menaikkan harga jual produknya sekitar 5 persen.

Rencana tersebut katanya lantaran didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya logistik. Menurut Adhi saat ini beban biaya produksi yang harus ditanggung oleh para pengusaha mamin semakin besar.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang masih terdepresiasi dalam di level Rp14.498 terhadap dolar AS, katanya semakin berat bagi industri mamin. Penertiban truk kelebihan muatan dan dimensi oleh Kementerian Perhubungan pun dinilai akan menaikkan biaya distribusi logistik 30 persen.

Hal itu, secara otomatis akan mendorong kenaikkan harga jual produk mamin ke konsumen (end user). Dia memperkirakan kenaikkan harga jual produk mamin dari adanya pelemahan nilai tukar, biaya distribusi logistik, biaya impor bahan baku, bisa mencapai 3 sampai 5 persen.

“Harusnya sudah naik 3 sampai 5 persen. Terus terang dalam penjualan mamin untuk pangan olahan setelah Lebaran sedikit lambat. Dengan naik 5 persen bisa mengembalikan margin,” kata Adhi kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (5/8/2018).

Adhi melanjutkan bahwa pihaknya belum siap untuk menghadapi kebijakan pemerintah soal penertiban truk kelebihan muatan dan dimensi. Selama ini truk pengangkut dari industri mamin sering mengoptimalkan muatan dengan mengangkut 30 persen lebih banyak dari kapasitas.

“Itu sangat berat sekali. Kami terbiasa melebihi muatan sekitar 30 persen dari kapasitasnya. Kalau ini dibatasi, ujung-ujungnya akan terjadi kenaikan biaya logistik. Perkiraan saya sekitar 30 persen ke biaya distribusi,” ujarnya.

Oleh karena itu, para pengusaha pun merencanakan kenaikan harga jual barang, apabila rupiah terus melemah. Hal ini terpaksa dilakukan untuk menjamin keuangan perusahaan. Namun, masing-masing pengusaha masih mempertimbangkan dampak dari kenaikan harga itu.

“Itu masing-masing perusahaan. Kalau lihat kondisi sudah tidak memungkinkan untuk menahan margin, ya mau tidak mau, dari pada rugi, ya harus naik. Tapi itu jalan terakhir. Sekarang kita sulit menaikkan harga. Otomatis membebani perusahaan lagi,” tukas dia.

Editor: Risman Septian

Previous articleCari Spot Instagramable? Coba ke Orchid Forest Lembang
Next articlePKB Sebut Tahapan Pilpres 2019 Kali Ini Menegangkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here