Menpar: Kejar Target 20 Juta Wisman, Indonesia Perlu LCCT

Menteri Pariwisata, Arief Yahya (kiri) saat Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Sektor Pariwisata untuk Meningkatkan Devisa Negara, yang diadakan di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Jakarta, PONTAS.ID – Pihak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong agar di Indonesia segera dibangun terminal untuk pesawat berbiaya murah atau Low Cost Carrier Terminal (LCTT), guna mengejar target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Hal tersebut diutarakan Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Sektor Pariwisata untuk Meningkatkan Devisa Negara, yang diadakan di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Kamis (12/7/2018) kemarin.

Dia mengungkapkan, bahwa di Indonesia, pertumbuhan penumpang low cost carrier mengalami kenaikan sebesar 55 persen per tahunnya. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan full service carriers (FSC) yang hanya naik sekitar 7 persen per tahunnya.

Dengan kondisi Indonesia yang hingga kini belum memiliki LCCT, membuat pesawat low cost carrier yang mendarat di Indonesia seperti Air Asia, Scoot, Jetstar dan lainnya, harus menggunakan terminal full service yang harganya lebih tinggi.

Berbeda keadaannya apabila Indonesia sudah memiliki terminal LCC sendiri. Menurut Arief, jika terminal LCC sudah ada di Indonesia, maka airlines bisa memotong biaya operasional hingga 50 persen, namun akan memiliki traffic yang meningkat dua kali lipat.

“Target yang diberikan presiden kepada kita menuntut pertumbuhan harus 20 persen, kalau kita ikut full service carriers maka pertumbuhan tidak akan pernah tercapai. Maka harus dengan low cost carrier,” kata Arief dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Dia pun memberi contoh beberapa bandara di Jepang yang telah membangun LCCT, seperti Bandara Narita, Bandara Kansai, Bandara Naha, dan Bandara Nagoya. Untuk Bandara Narita, mereka baru saja membangun T3 sebagai LCCT pada April 2015.

“Dan (Bandara Narita) pax traffic LCC-nya terus tumbuh dari 11.5 persen menjadi 31 persen pada 2017, dari pax traffic keseluruhan di Bandara Narita. Hasilnya turis inbound ke Jepang tumbuh 33 persen dari tahun 2011 sampai 2015 dan menjadi the fastest rate in the world, mencapai 28,7 juta turis pada 2017,” ujarnya.

Walaupun LCC identik dengan budget traveler, namun Arief mengaku tidak khawatir bila nantinya wisatawan yang berkunjung ke Indonesia memiliki spending yang kecil.

“Contohnya Thailand, punya banyak terminal LCC, namun average revenue per-arrival (ARPA)-nya mencapai 1.500 dolar AS. Sementara Indonesia masih di angka 1.200 dolar AS. Tingkat keterisian penumpang (okupansi) pesawat ke destinasi biasanya juga lebih banyak untuk kelas ekonomi,” jelas dia.

Arief lantas memproyeksikan pembangunan LCCT di bandara yang telah memiliki lebih dari satu terminal, sehingga salah satu terminalnya bisa diarahkan untuk LCCT. Dengan adanya LCCT di Indonesia, dia meyakini akan ikut mendorong pencapaian target kunjungan 20 juta wisman yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Editor: Risman Septian

Previous articleKunjungi Palembang, Presiden Jokowi Uji Coba LRT
Next articleTekan Impor, Kemenperin Terus Dorong Masuknya Investasi di Sektor Industri kimia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here