Sejumlah Daerah di Indonesia Dilaporkan Kekeringan

Jakarta, PONTAS.ID –  Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, Nusa Tenggara Timur, melaporkan bencana kekeringan ekstrem terjadi di sejumlah lokasi di empat kabupaten. Kekeringan ekstrem terjadi karena hujan tidak turun di wilayah tersebut selama lebih dari 60 hari.

Adapun kekeringan ekstrem, yakni hujan lebih dari 60 hari. Untuk kekeringan ekstrem terjadi di Danga, Kabupaten Nagekeo, Wulandoni, di Kabupaten Lembata, Feapopi di Kabupaten Rote Ndao, serta Kanatang dan Kawangu di Kabupaten Sumba Timur.

Menurut Kepala Stasiun Krimatologi Lusiana, Kupang, Nusa Tenggara Timur,  Apollinaris, hasil analisis curah hujan dasarian I Juni 2018 pada umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter.

Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Daerah rawan ke­keringan terjadi di Kabupaten Sukabumi bagian selatan dan utara. “Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, daerah langganan kekeringan, di antaranya Kecamatan Warungkiara, Bantargadung, sebagian Pelabuhanratu, Cibadak, Ciemas, Cikembar, dan Simpenan,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, Seperti dikutip dari laman mediaindonesia.com.  

Walaupun dalam beberapa pekan terakhir belum turun hujan tetapi belum bisa dikatakan saat ini sudah memasuki musim kemarau.

Untuk itu, penetapan status kebencanaan maupun peralihan musim harus berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Sampai sekarang belum ada surat edaran dari BMKG,” ujar Eka.

Dia memprediksi kondisi cuaca saat ini bisa jadi ekstrem karena memasuki musim pancaroba. Pada masa pancaroba ini, lanjut Eka, biasanya akan muncul angin puting beliung.

“Kami mewaspadai terjadinya peralihan musim. Prediksinya bulan sekarang. Potensi bencana selama masa peralihan cuaca itu, yakni puting beliung dan cuaca ekstrem,” imbuh Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyanto.

Krisis air bersih
Bencana kekeringan juga melanda Cilacap, Jawa Tengah. Semula ada 12 desa yang dilanda kekeringan, kini bertambah satu desa, yakni Desa Sidaurip, Kecamatan Kawunganten. BPBD Cilacap telah memasok kebutuhan air bersih di desa-desa dilanda kekeringan tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Cilacap Martono, mengatakan bahwa ada satu desa tambahan yang kemarin dipasok air bersih. “Desa yang mengalami krisis air bersih adalah Desa Sidaurip. Ada 42 keluarga atau 192 jiwa mengalami krisis air bersih. Hari ini (Selasa, 12/6) sudah dipasok air bersih sebanyak dua tangki atau 10 ribu liter,” jelas Martono.

Martono memprediksi kekeringan diperkirakan bakal terus meluas sebab di Cilacap ada 48 desa di 14 kecamatan yang rawan kekeringan. “Pemkab juga telah siaga menghadapi kekeringan dan kriris air bersih. Bupati Banyumas telah menerbitkan SK mengenai status keadaan siaga darurat bencana kekering­an hingga 15 Agustus,” ujarnya.

Adapun kekeringan ekstrem, yakni hujan lebih dari 60 hari. Untuk kekeringan ekstrem terjadi di Danga, Kabupaten Nagekeo, Wulandoni, di Kabupaten Lembata, Feapopi di Kabupaten Rote Ndao, serta Kanatang dan Kawangu di Kabupaten Sumba Timur.

Menurut Apollinaris, hasil analisis curah hujan dasarian I Juni 2018 pada umumnya wilayah NTT mengalami curah hujan dengan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter.

Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Daerah rawan ke­keringan terjadi di Kabupaten Sukabumi bagian selatan dan utara. “Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, daerah langganan kekeringan, di antaranya Kecamatan Warungkiara, Bantargadung, sebagian Pelabuhanratu, Cibadak, Ciemas, Cikembar, dan Simpenan,” kata Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, kepada Media Indonesia.  

Walaupun dalam beberapa pekan terakhir belum turun hujan tetap belum bisa dikatakan saat ini sudah memasuki musim kemarau. Untuk itu, penetapan status kebencanaan maupun peralihan musim harus berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Sampai sekarang belum ada surat edaran dari BMKG,” ujar Eka.

Dia memprediksi kondisi cuaca saat ini bisa jadi ekstrem karena memasuki musim pancaroba. Pada masa pancaroba ini, lanjut Eka, biasanya akan muncul angin puting beliung.

“Kami mewaspadai terjadinya peralihan musim. Prediksinya bulan sekarang. Potensi bencana selama masa peralihan cuaca itu, yakni puting beliung dan cuaca ekstrem,” imbuh Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyanto.

Krisis air bersih
Bencana kekeringan juga melanda Cilacap, Jawa Tengah. Semula ada 12 desa yang dilanda kekeringan, kini bertambah satu desa, yakni Desa Sidaurip, Kecamatan Kawunganten. BPBD Cilacap telah memasok kebutuhan air bersih di desa-desa dilanda kekeringan tersebut.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Cilacap Martono, mengatakan bahwa ada satu desa tambahan yang kemarin dipasok air bersih. “Desa yang mengalami krisis air bersih adalah Desa Sidaurip. Ada 42 keluarga atau 192 jiwa mengalami krisis air bersih. Hari ini (Selasa, 12/6) sudah dipasok air bersih sebanyak dua tangki atau 10 ribu liter,” jelas Martono.

Martono memprediksi kekeringan diperkirakan bakal terus meluas sebab di Cilacap ada 48 desa di 14 kecamatan yang rawan kekeringan. “Pemkab juga telah siaga menghadapi kekeringan dan kriris air bersih. Bupati Banyumas telah menerbitkan SK mengenai status keadaan siaga darurat bencana kekering­an hingga 15 Agustus,” ujarnya.

Editor: Idul HM

Previous articleKemenkop UKM Ingatkan Kopsyah BMI Kembangkan Layanan Keuangan Berbasis IT
Next articleLanjutkan Ekspedisi, ABK GOMA Rayakan Idul Fitri di Kapal