Kementerian PUPR Klaim Hubungan dengan Jepang Beri Manfaat

Kepala Balitbang Kementerian PUPR, Danis H. Sumadilaga

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang diwakili oleh Kepala Balitbang Danis H. Sumadilaga mengatakan kerjasama Indonesia-Jepang selama 60 tahun ini, khususnya dengan Kementerian PUPR tidak hanya semakin kuat namun juga semakin luas ke sektor lainnya.

Jika pada periode awal, kerjasama lebih banyak pada pembangunan infrastruktur sumber daya air seperti bendungan, namun kini berkembang ke sektor jalan tol, sanitasi dan perumahan.

“Kerjasama dalam pembangunan infrastruktur tidak hanya memberi manfaat pada hadirnya infrastruktur fisik semata namun juga memberikan manfaat bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, alih teknologi dan lahirnya institusi baru,” kata Danis, dalam keterangan resminya yang diterima PONTAS.id, Senin (14/5/2018).

Pernyataan ini disampaikan, Danis, dalam Symposium on Indonesia-Japan Development Cooperation dengan tema “Building the Future Based on Trust”, di Jakarta, 14 Mei 2018.

Dicontohkan Danis, kerjasama pembangunan beberapa bendungan pada tahun 1960-1970 di Jawa Timur, turut meningkatkan kemampuan insinyur Indonesia serta turut berpengaruh pada lahirnya Perum Jasa Tirta 1 yang mengelola Daerah Aliran Sungai Brantas dan berdirinya PT. Indra Karya, BUMN jasa konsultansi bidang sumber daya air.

“Beberapa bendungan yang dibangun seperti Bendungan Selorejo (1963-1972), Bendungan Lahor (1972-1977), Bendungan Wlingi (1972-1979) dan Bendungan Karangkates (1975-1977),” imbuhnya.

Teknologi Sabo Dam
Kerjasama spesifik lainnya, lanjut Danis, dalam hal pembangunan Sabo Dam untuk menahan aliran banjir lahar erupsi gunung berapi. “Melalui kerjasama tersebut, Indonesia telah memiliki ahli Sabo dan telah dibentuk Balai Sabo di Yogyakarta sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi Sabo,” kata Danis.

Hingga kini sudah dibangun 646 bangunan Sabo Dam di Indonesia diantaranya 250 buah di lereng Gunung Merapi, dan 92 buah di lereng Gunung Agung, lanjut dia.

Di sektor jalan tol, yakni pembangunan Tol Akses Pelabuhan Tanjung Priok yang telah rampung tahun 2017, Tol Akses Pelabuhan Patimban di Subang, dan Tol Padang-Pekanbaru Seksi II Sicincin-Payakumbuh sepanjang 78 km.

Pada ruas tersebut terdapat pembangunan lima terowongan dengan total panjang 8,9 km yang menembus Bukit Barisan. Jepang berpengalaman dalam pembangunan terowongan panjang sehingga diharapkan ada alih pengetahuan dan teknologi.

“Kerjasama dalam pembangunan terowongan dengan Jepang dapat dikembangkan lagi misalnya membentuk training center khusus terowongan. Hal ini untuk mengantisipasi kebutuhan pembangunan terowongan di masa depan. Saat ini terowongan belum terlalu banyak,” jelas Danis.

Kerjasama lainnya yakni pembangunan Jakarta Sewerage System dengan prioritas pada zona 1 dan zona 6 dari rencana 15 Zona (Zona 0-14). Pada zona 1 di Pluit, IPAL yang dibangun akan memiliki kapasitas 198.000 m3 per hari. “Sementara Zona 6 yang berlokasi di Duri Kosambi dengan kapasitas 282.000 m3 perhari,” pungkasnya.

Editor: Hendrik JS

Previous articleDampak Teror Bom Surabaya, ASITA: Antisipasi bagi Pariwisata
Next articleSoroti Alih Fungsi Tanah di Bali, Menteri Beri Perhatian Serius

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here