Nilai Rupiah Melemah, Stabilitas Keuangan Negara Terganggu

A teller counts Indonesian rupiah notes next to US dollar notes at a currency exchange point in Jakarta on July 19, 2012. Indonesia's weakening rupiah and widening current account deficit are raising concerns about Southeast Asia's largest economy, which is struggling against contagion from the global crisis. AFP PHOTO / ROMEO GACAD

Jakarta, PONTAS.ID – Wakil Ketua Komisi XI DPR Achmad Hafisz Thohir menilai, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS saat ini tak terlepas dari kondisi perekonomian dunia yang tengah mengalami penurunan.

“Tatanan ekonomi global sedang berubah! Fed Bank naikkan suku bunga, US turunkan pajak. Ini mempengaruhi pergerakan modal (capital flight) – Permintaan akan US dollar tinggi,” kata Hafisz saat dihubungi, Senin (5/3/2018).

“Sementara cost of money dan tarif kita belum ada perubahan positif, ini salah satu sebabnya (rupiah melemah),” sambung dia.

Selain itu, terang Hafisz, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar juga lantaran adanya sentimen harga crude oil yang naik cukup tinggi dalam 3 bulan terakhir.

Politikus PAN ini memperkirakan, nilai tukar rupiah akan terus terdepresiasi lebih dalam jika tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah.

“Sepanjang tidak ada tindakan preventif bisa saja. Tapi saya melihat ini hanya pergerakan sementara saja. Insya Allah tidak berkepanjangan,” ujarnya.

Kendati demikian, Hafisz menilai, melemahnya pergerakan kurs rupiah terhadap dollar AS sedikit banyak akan mengganggu stabilitas perekonomian domestik.

“Pertama akan membebani neraca pembayaran luar negeri, itu pasti! Dan ini akan merugikan keuangan negara. Kedua melemahkan nilai produk eksport kita karenan sebagian bahan baku produk dalam negeri hampir 30-40% dari import. Ketiga industri keuangan akan lesu,” ungkapnya.

Ingatkan Para Menteri

Terpisah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kepada para menterinya soal nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah belakangan ini.

Jokowi mengatakan yang perlu diantisipasi mulai dari pergerakan suku bunga dalam hal ini Fed Fund Rate (FFR), harga komoditas dunia, arus modal masuk dan keluar, serta nilai tukar.

“Sebelumnya saya ingin mengingatkan terkait pelaksanaan APBN 2018 maupun kerangka APBN 2019, agar diwaspadai, diantisipasi mengenai dinamika ekonomi dunia yang terus berubah sangat dinamis, baik yang berkaitan suku bunga, berkaitan komoditas, yang berkaitan dengan arus modal masuk, arus modal keluar, yang berkaitan dengan nilai tukar, karena itu semua dapat mempengaruhi ekonomi kita, pengaruhi daya saing kita, oleh sebab itu harus betul-betul diantisipasi,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (5/3/2018).

Jokowi juga mengingatkan tentang negara-negara tujuan ekspor Indonesia.

“Sudah saya sampaikan pada saat pertemuan dengan duta besar, bahwa kita harus mencari pasar alternatif untuk ekspor, non tradisional sehingga pasar kita semakin meluas,” tambah dia.

Seperti diketahui, nilai tukar dolar terhadap rupiah saat ini masih terus tertekan hingga berada di kisaran Rp 13.750. Dalam kurun waktu lima hari terakhir, dolar yang sempat mencatat pelemahan di angka Rp 13.288 pada Kamis 1 Maret 2018, sampai hari ini terus merangkak naik hingga parkir di angka Rp 13.755 siang ini.

Previous articleSandi Jadi Jurkam Hanya di Hari Minggu
Next articleKeyakinan Besar Rizal Ramli Calonkan Diri Jadi Presiden RI