Korupsi E-KTP, KPK Telusuri Aliran Dana Setya Novanto

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah

Jakarta, PONTAS.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menahan Ketua DPR, Setya Novanto yang berstatus tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. KPK memastikan akan terus mengusut kasus yang merugikan keuangan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut. Salah satunya dengan menelusuri aset Novanto yang diduga berasal atau terkait dengan proyek senilai Rp 5,9 itu.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, penyidik mencermati dan mendalami aspek keuangan dan aliran dana dalam kasus ini. Apalagi, terdapat sejumlah pihak yang menerima aliran dana proyek e-KTP secara langsung maupun tidak.

“Tentu aspek-aspek keuangan dan aliran dana jadi bagian yang kita cermati di kasus ini. Karena diduga ada sejumlah pihak yang menerima aliran dana baik melalui perantara, langsung ada juga yang dengan cara-cara tertentu. Itu jadi bagian penting bagi KPK untuk lakukan penelusuran lebih lanjut,” kata Febri di Gedung KPK, Selasa (21/11/2017).

Diketahui, KPK telah mengantongi secara rinci aliran dana dari korupsi e-KTP. Aliran dana ini dikantongi lembaga antikorupsi dari proses penyidikan yang sudah berlangsung sejak 2014 dan memeriksa ratusan saksi. Bahkan, KPK mendeteksi adanya aliran dana dari hasil korupsi itu yang sudah berubah bentuk menjadi aset dan lainnya. Untuk memaksimalkan pemulihan keuangan negara yang dirugikan sebesar Rp 2,3 triliun bukan tak mungkin KPK akan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) kepada tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP, termasuk Novanto.

Disinggung mengenai hal tersebut, Febri mengungkapkan, KPK belum mempertimbangkan untuk menjerat Novanto dengan pasal TPPU. Dikatakan, KPK saat ini masih fokus mengumpulkan bukti-bukti terkait tindak pidana korupsi yang diduga dilakukan Novanto.

“Sampai saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut pada dugaan TPPU. Kami masih fokus pada mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat pada proses tindak pidana korupsi yang sudah kita mulai penyidikannya,” jelasnya.

Novanto diketahui ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Novanto yang saat proyek ini bergulir menjabat Ketua Fraksi Golkar di DPR diduga melakukan korupsi bersama-sama Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, mantan dua pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto serta pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong. Dalam surat dakwaan Irman dan Sugiharto, Setnov bersama Andi Narogong disebut mendapat jatah Rp 574,2 miliar dari total nilai proyek sebesar Rp5,9 triliun. Pada persidangan Irman dan Sugiharto serta Andi Narogong, Setnov disebut telah menerima jatah dari proyek e-KTP tersebut.

Harta kekayaan Novanto saat ini mencapai Rp114.769.292.837 atau Rp114,7 miliar dan USD49.150. Hal ini berdasar Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diserahkan Novanto ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terakhir kali pada 13 April 2015. Jumlah harta ini melonjak dibanding laporan sebelumnya pada 28 Desember 2009. Saat itu, Novanto mengklaim hanya memiliki harta. kekayaan sebesar Rp73.789.728.051 dan USD17.781.

Berdasar acch.kpk.go.id, harta kekayaan Novanto diantaranya berupa harta tak bergerak seperti tanah dan bangunan yang nilainya mencapai Rp81.736.583.000. Dengan luas yang bervariasi, tanah dan bangunan milik Novanto ini tersebar di sejumlah lokasi, seperti delapan bidang di wilayah Jakarta Selatan, dua bidang di Jakarta Barat, empat bidang di Kabupaten Bogor, serta masing-masing satu bidang di Kota Bekasi dan Kupang. Dalam LHKPN ini, Novanto mengklaim memiliki harta bergerak berupa kendaraan bermotor dengan nilai total Rp2.353.000.000. Sejumlah kendaraan yang dicantumkan Novanto dalam LHKPN ini diantaranya, Toyota Alphard, Toyota Vellfire, Jeep Commander, Mitsubishi, dan Toyota Camry. Sementara kendaraan roda dua, Setnov memiliki satu unit motor merek Suzuki. Tak hanya itu, Novanto juga memiliki harta bergerak lainnya berupa logam mulia senilai Rp342.000.000, batu mulai seharga Rp470.000.000, dan benda bergerak lainnya senilai Rp120.500.000. Harta Novanto lainnya berupa surat berharga senilai Rp8.450.000.000, giro dan setara kas sebanyak Rp21.297.209.837 serta USD49.150.

Penulis: Hendrik Simorangkir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here