New Delhi, PONTAS.ID – Kota Bombai dan Delhi, India merupakan salah satu dari kota-kota dunia yang paling banyak menggunakan ganja dalam setahun.
Majalah Quarts mengungkapkan, bahkan Kota Karachi, Pakistan termasuk sebagai kota paling banyak mengonsumsi barang haram itu. Studi yang dilakukan Seedo, perusahaan penyedia perlengkapan menanam ganja di rumah, juga mengungkapkan bahwa kota-kota di Asia Selatan merupakan kawasan yang menjual ganja atau marijuana paling murah sedunia. Harganya berkisar antara 4 dollar hingga 5 dollar per gram. Sebaliknya, India menjadi negara yang dikenal paling mahal menjual hasis, nama lain dari marijuana atau ganja. Termasuk Cairo, Mesir yang menghargai ganja sampai 16.15 dollar per gram.
Di India, pohon ganja ditanam secara bebas di wilayah pegunungan. Meski begitu, perdagangan tanaman terlarang itu masih diawasi ketat. Penggunaan ganja diatur oleh kementerian keuangan, dan pendapatan negara, serta dikendalikan oleh Badan Psikotropika dan Obat-obatan serta Narkotika, sejak 1985. India mengizinkan penanaman ganja untuk keperluan industri, antara lain digunakan untuk membuat serat rami.
Namun penggunaan ganja sebagai narkoba bisa dikenai denda 157 dollar atau hukuman enam bulan penjara. Produksi budidaya ilegal dikenai hukuman 10 tahun penjara. Meski begitu, tidak membuat para perokok ganja di India jera. Bahkan, menurut data penyitaan obat bius tahun 2016 lalu, penggunaan kanabis mendominasi perdagangan obat bius di India. Pada tahun 2015 lalu, anggota parlemen mendorong penggunaan marijuana dilegalkan, karena menguntungkan bagi para pengguna marijuana.
Lain halnya di Amerika Serikat. Sejumlah negara bagian melegalkan penggunaan marijuana secara legal. Pada 1 Januari kemarin misalnya, California membuka pasar marijuana terbesar di dunia, sedangkan negara bagian Vermont untuk pertama kalinya melegalkan tanaman ganja. Sebanyak 400 pengusaha diberi izin penjualan ganja mulai 1 Januari lalu.
GreenWave Advisors, perusahaan analisa keuangan ganja memperkirakan perdagangan dan industri ganja di California bakal meningkat nilainya sampai 5,1 miliar dollar pada 2018 ini. Bahkan beberapa perusahan menjual sahamnya ke pasar saham di Wall Street, New York.
















