IDM Inovasi Teknologi Pembunuh Serangga Karya Anak Bangsa

Uji Coba Industrial Dielectric Heating Machine (IDM) perdana yang dilakukan kantor Karantina Semarang.

Jakarta, PONTAS.ID – Karantina Semarang menjadi yang pertama dan berhasil menjadi percontohan (model) dalam implementasi alat  pemanasan menggunakan gelombang mikro (Dielectric Heating).

Mesin yang bernama IDM (Industrial Dielectric Heating Machine) ini merupakan hasil nyata dari mitra kerja Karantina Pertanian, PT. BDA.

“Ujicoba yang dilakukan untuk pertama kalinya ini dilakukan untuk Karantina Semarang. Dan merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk mendapat kesempatan berharga ini. Tentunya teknologi dan inovasi karya anak bangsa ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, demi layanan yang optimal ke depannya,” ungkap Kepala Karantina Semarang, Drh. Wawan Sutian, dalam keterangan resminya, Selasa (28/5/2019).

Ia  mengatakan, mesin berteknologi canggih ini merupakan karya anak bangsa Imron Ruyadi, Marsudi, dan Djoko Adrianto beserta timnya yang kreatif dan inovatif.

Ujicoba pada media palet kayu yang akan dilalulintaskan dan hasilnya sungguh menakjubkan, hanya dalam beberapa menit, mesin dapat berhasil membunuh serangga.

Wawan berharap, dengan pemanfaatan mesin ini tidak perlu waktu lama untuk mematikan hama pada kayu. Bahkan, mesin ini bisa digunakan untuk buah maupun holtikultura yang memerlukan pemanasan tanpa perlu merusak media target dan berbiaya murah.

Untuk diketahui Sistem Kerja mesin pemanas dielektrik ini memanfaatan energi kinetik menjadi energi termal. Panas yang ditimbulkan disebabkan oleh pergerakan molekul O2 dari H2O yang terkandung pada kayu atau dalam media pembawa lainnya. Jadi prinsip kerjanya mirip mesin Microwave atau Pancaran gelombang radar yang di terima oleh media dengan kandungan H20.

Gelombang dengan frekuensi 2.45 GHz yang dipancarkan oleh transmitter yang dipasang akan mampu diterima oleh O2 di dalam media pembawa. Berjuta molekul bergesek miliaran kali sehingga menimbulkan panas dari dalam media tersebut. Panas yang timbul dari dalam dan bukan panas rambatan sehingga membuat media tersebut tidak rusak. Ini berbeda dengan panas rambatan (konveksi) yang cenderung merusak media. Apabila kayu berada pada suhu ekstrim, pasti ada retakan dan bengkok. Sementara jika pada buah pasti matang.

“Inovasi memang diperlukan, demi layanan karantina yang lebih baik,” tutup Wawan.

Penulis: Hartono

Editor: Idul HM

Previous articleTuding Ada Penyelewengan Anggaran, PPK se-Asahan Demo KPU
Next articleBupati Cek Kesiapan Angkutan Mudik Gratis Pemkab Tangerang